LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

Published Maret 30, 2012 by armeinachevana

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI

KARAKTERISASI ORGANISME, HABITAT DAN NICHE

 

 

 

 

Disusun oleh :

 

KELOMPOK IV :

  1. Adi Permana               M0407001
  2. Evi Rosiana                 M0407009
  3. Armeina Nur R           M0407024
  4. Dian Fajar A               M0407030
  5. Francellin A                M0407035
  6. Nafisah Kuntidewi     M0407051
  7. Restytia M                  M0407060
  8. Yuniar Nilawati          M0407072

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2009

PENDAHULUAN

 

Pemenuhan kebutuhan manusia dapat terpenuhi karena adanya pemanfaatan lingkungan yang berbentuk pengelolaan lingkungan hidup. Melalui pengelolaan lingkungan hidup, terjadi hubungan timbal balik antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Ini berarti sudah berkaitan dengan konsep ekologi, terutama tentang konsep hubungan timbal balik (inter-related) antara lingkungan biofisik dengan lingkungan sosial. Dengan demikian apabila membicarakan lingkungan hidup, maka konsep ekologi akan selalu terkait, sehingga permasalahan lingkungan hidup adalah permasalahan ekologi.

Inti permasalahan ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal) makhluk hidup. Dengan demikian ekologi biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Berdasarkan arti harfiah dari asal katanya ekologi dan ekonomi sama. Ekologi (Oikos dan logos) sedang ekonomi (Oikos dan nomos) sehingga kedua ilmu itu banyak persamaannya. Namun dalam ekologi, mata uang yang dipakai dalam transaksi bukan rupiah atau dolar, melainkan materi, energi, dan informasi. Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu komunitas atau beberapa komunitas mendapat perhatian utama dalam ekologi, seperti uang dalam ekonomi. Oleh karena itu transaksi dalam ekologi berbentuk materi, energi, dan informasi.

Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Faktor Biotik

Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme berperan sebagai dekomposer. Faktor biotik juga meliputi tingkatan-tingkatan organisme yang meliputi individu, populasi, komunitas, ekosistem, dan biosfer. Tingkatan-tingkatan organisme makhluk hidup tersebut dalam ekosistem akan saling berinteraksi, saling mempengaruhi membentuk suatu sistemyang menunjukkan kesatuan.

Habitat

Morrison (2002) mendefinisikan habitat sebagai sumberdaya dan kondisi yang ada di suatu kawasan yang berdampak ditempati oleh suatu species. Habitat merupakan organism-specific: ini menghubungkan kehadiran species, populasi, atau idndividu (satwa atau tumbuhan) dengan sebuah kawasan fisik dan karakteristik biologi. Habitat terdiri lebih dari sekedar vegatasi atau struktur vegetasi; merupakan jumlah kebutuhan sumberdaya khusus suatu species. Dimanapun suatu organisme diberi sumber daya yang berdampak pada kemampuan untuk bertahan hidup, itulah yang disebut dengan habitat.

Habitat tidak sama dengan tipe habitat. Tipe habitat merupakan sebuah istilah yang dikemukakan oleh Doubenmire (1968:27-32) yang hanya berkenaan dengan tipe asosiasi vegetasi dalam suatu kawasan atau potensi vegetasi yang mencapai suatu tingkat klimaks. Habitat lebih dari sekedar sebuah kawasan vegetasi (seperti hutan pinus). Istilah tipe habitat tidak bisa digunakan ketika mendiskusikan hubungan antara satwa liar dan habitatnya. Ketika kita ingin menunjukkan vegetasi yang digunakan oleh satwa liar, kita dapat mengatakan asosiasi vegetasi atau tipe vegetasi didalamnya.

Penggunaan habitat merupakan cara satwa menggunakan (atau ”mengkonsumsi” dalam suatu pandangan umum) suatu kumpulan komponen fisik dan biologi (sumber daya) dalam suatu habitat. Hutto (1985:458) menyatakan bahwa penggunaan habitat merupakan sebuah proses yang secara hierarkhi melibatkan suatu rangkaian perilaku alami dan belajar suatu satwa dalam membuat keputusan habitat seperti apa yang akan digunakan dalam skala lingkungan yang berbeda.

Habitat suatu organisme adalah tempat organisme itu hidup, atau tempat ke mana seseorang harus pergi untuk menemukannya. Sedangkan niche (relung) ekologi merupakan istilah yang lebih luas lagi artinya tidak hanya ruang fisik yang diduduki organisme itu, tetapi juga peranan fungsionalnya di dalam masyarakatnya (misal: posisi trofik) serta posisinya dalam kondisi lingkungan tempat tinggalnya dan keadaan lain dari keberadaannya itu. Ketiga aspek relung ekologi itu dapat dikatakan sebagai relung atau ruangan habitat, relung trofik dan relung multidimensi atau hypervolume. Oleh karena itu relung ekologi sesuatu organisme tidak hanya tergantung pada dimana dia hidup tetapi juga apa yang dia perbuat (bagaimana dia merubah energi, bersikap atau berkelakuan, tanggap terhadap dan mengubah lingkungan fisik serta abiotiknya), dan bagaimana jenis lain menjadi kendala baginya. Hutchinson (1957) telah membedakan antara niche pokok (fundamental niche) dengan niche yang sesungguhnya (relized niche). Niche pokok didefinisikan sebagai sekelompok kondisi-kondisi fisik yang memunkinkan populasi masih dapat hidup. Sedangkan niche sesungguhnya didefinisikan sebagai sekelompok kondisi-kondisi fisik yang ditempati oleh organisme-organisme tertenu secara bersamaan.

Dimensi-dimensi pada niche pokok pada niche pokok menentukan kondisi-kondisi yang menyababkan organisme-organisme dapat berinteraksi tetapi tidak menentukan bentuk, kekuatan tau arah interaksi. Dua faktor utama yang menetukan bentuk interaksi dalam populasi adalah kebutuhan fisiologis tiap-tiap individu dan ukuran relatifnya. Empat tipe pokok dari interaksi diantara populasi sudah diketahui yaitu: kompetisi, predasi, parasitisme dan simbiosis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Reptil adalah sebuah kelompok dari hewan vertebrata. Reptil adalah tetrapoda, dan juga amniota (hewan yang embrionya dikelilingi oleh membran amniotik). Sekarang ini mereka mewakili empat ordo:

* Ordo Crocodylia (buaya dan alligator): 23 spesies

* Ordo Rhynchocephalia (tuatara dari Selandia Baru): 2 spesies

* Ordo Squamata (kadal, ular dan amphisbaenians {“worm-lizards”}): sekitar 7.600

spesies

* Ordo Testudinata (kura-kura dan penyu): sekitar 300 spesies

Reptil bisa ditemui di semua benua kecuali Antartika, walaupun distribusi Reptil yang utama hanya di daerah tropis dan sub-tropis. Kecuali beberapa anggota ordo Testudines, semua reptil memiliki cangkang. Kulit yang bersisik dan berdarah dingin merupakan hal penting mereka. Kulit bersisik reptil membantunya menjaga dari penguapan. Amfibi, seperti katak air dan kata pohon jauh lebih terbatas perjalananya. Kulit mereka yang lembab membuat mereka sangat bergantung pada air. Dan jarang berada jauh dari air.

Ciri-ciri yang dapat digunakan untuk identifikasi jenis buaya adalah melalui bentuk cranial dan perkatupan gigi. Dapat juga dilihat dari kulit ada tidaknya dan bentuk tonjolan di belakang mata (protuberance). Kemudian dilihat bentuk, ukuran dan jumlah sisik nuchal, sisik dorsal, sisik ventral dan tonjolan sisik ekor serta bagian colar.

Kata Reptilia berasal dari kata reptum yang berarti melata. Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan peru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan Kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub-ordo tertentu dapat mengelupas atau melakukan pergantian kulit baik secara total yaitu pada anggota Sub-ordo Ophidia dan pengelupasan sebagian pada anggota Sub-ordo Lacertilia. Sedangkan pada Ordo Chelonia dan Crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Zug, 1993).

Reptilia termasuk dalam vertebrata yang pada umumnya tetrapoda, akan tetapi pada beberapa diantaranya tungkainya mengalami reduksi atau hilang sama sekali seperti pada serpentes dan sebagian lacertilia. Reptilia yang tidak mengalami reduksi tungkai umumnya memiliki 5 jari atau pentadactylus dan setiap jarinya bercakar. Rangkanya pada reptilia mengalami osifikasi sempurna dan bernafas dengan paru-paru (Zug, 1993).

 

1.      Natrix maura (Ular Natrix)

Ø  Klasifikasi

Kerajaan                : Animalia

Filum                     : Chordata

Kelas                     : Reptilia

Ordo                      : Squamata

Subordo                : Serpentes

Famili                    : Colubridae

Genus                    : Natrix

Spesies                  : Natrix maura                         Gambar 1. Natrix maura                    

Ø  Deskripsi

Sejarah dan asal

Ular Viperine yang pertama telah dijelaskan oleh Linnaeus pada 1758. Nama ilmiah spesies ini adalah Natrix maura. Natrix berarti air, sedangkan maura dalam bahasa Latin adalah untuk Mauritania sehingga disebut  ular air Mauritania.

Habitat

Ular ini tinggal di daerah-daerah basah, biasanya sangat dekat dengan sungai, kolam, rawa, (hingga 2.300 kaki). Ular ini aktif di bawah air hingga 14 o C antara bulan Maret dan Oktober karena suhu tubuh dari ular air ini dekat dengan suhu air. Mereka dapat bertahan pada ketinggian 1800 meter, meskipun biasanya ditemukan di bawah 1000 meter. Mereka juga dapat mentolerir air asin di sungai-sungai.

Distribusi

Iberia, dari Prancis ke Italia Utara, Semenanjung Iberian, Perancis (kecuali bagian utara, di sekitar batas Orléans), Swiss barat, barat laut Italia, Sardinia, dan Mallorca Menorca.

Ukuran

Rata-rata ukuran ular jantan  35 in / 85 cm dan betina 52 in / 130 cm. Ular ini mengeram sekitar 15 cm, rata-rata sekitar 40 cm tetapi dapat tumbuh hingga 76 cm. Ini adalah ular yang paling sering dilihat di dekat air. Biasanya mereka tidak melebihi 65-70 cm dalam keseluruhan panjang, tapi kadang-kadang dapat mencapai 90 – 100 cm dengan betinanya mencapai ukuran yang lebih besar.

Morfologi

Ketika Natrix maura mencapai panjang sekitar 50 cm, tubuh mereka menjadi lebih kuat, namun mereka masih ramping dan elegan. Kepalanya ramping dan persegi empat dan memiliki mata kecil.

Pola warna

Sangat variabel,  biasanya abu-abu gelap marka zig-zag, zaitun golf, hijauan coklat, coklat kekuning-kuningan, abu-abu, kekuning-kuningan jeruk dan coklat kemerahan dan kadang-kadang bintik-bintik. Pada umumnya adalah warna coklat hijau dengan tanda-tanda gelap. Biasanya pola berwarna krem kuning atau garis bawah pada bagian belakang. Perutnya berwarna hitam dan putih. Pada bagian belakang dari kepalanya ada dua baris, yang dapat dilihat dengan jelas, dalam bentuk “V” yang terbuka mulai dari bagian belakang. Kembali pada dua baris yang gelap ke belakang, yang sering bergabung bersama-sama memberikan pola berliku-liku. Ada juga yang berwarna kuning dengan coklat gelap, kadang-kadang ada pola di sepanjang bagian belakang dan hampir membentuk tanda mata bintik-bintik di sepanjang sisi. Satu variasi adalah keseluruhan warna gelap pucat dengan dua garis berjalan paralel panjang secara penuh.

Perbedaan seksual

Ular betina lebih besar daripada jantan, khususnya pada akhir musim semi ketika mereka sedang membawa telur.

Kematangan seksual

Umur dewasa untuk Natrix maura adalah sekitar 20 tahun. Pejantan mencapai kematangan seksualnya dalam tahun ketiga, sedangkan betina dewasanya dalam awal tahun keempat. Panjang ular ini sekitar 30 sampai 60 cm ketika mereka mencapai kematangan seksual.

Tingkah laku

Ular air pada umumnya ditemukan hampir selalu dekat dengan air pada siang hari. Bila mereka terganggu, mereka akan pergi berenang dengan kecepatan tinggi, hampir selalu menyelam dan bersembunyi di bawah antara tanaman dan batu. Ular ini adalah ular tidak berbisa. Jika terancam, ular ini menerapkan strategi dengan mengeluarkan desis keras lalu mengarahkan kepala ke arah ancaman dan bahkan akan menyerang, tetapi dengan mulut tertutup ia juga akan mengeluarkan bau yang enak dari kelenjar anal. Dalam kehidupannya, ular ini dapat mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar, kadang-kadang makan ikan lebih dari seperempat ukuran mereka sendiri.

Sepanjang hari selama musim semi dan musim gugur mereka juga dapat aktif pada malam musim panas. Dari bulan November-Maret (dapat bervariasi dengan suhu) mereka akan hibernasi jauh dari tepi air bersembunyi di bawah batu. Kadang-kadang mereka dapat dilihat berjemur di panas hari ini selama waktu hibernasi. Ular ini kebanyakan di dalam air, berenang lambat di sepanjang tepi atau diantara tanaman-tanaman dengan kemampuan untuk tinggal di bawah air hingga 15 menit.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.  Natrix maura berenang di permukaan air

Reproduksi

Reproduksi  terjadi saat musim semi, seminggu setelah hibernasi. Periode hibernasi adalah dari Oktober sampai Maret atau April baik di sarangnya atau di bawah timbunan sebuah batu. Pada saat tersebut ular ini tahan terhadap temperatur dingin hingga minus 15° C. Reproduksi terjadi di Maret atau April, diikuti dengan peletakan antara 5 dan 15 (kadang-kadang 20) telur pada bulan Juli di tanah basah atau ditinggalkan dalam lubang tanah. Hasilnya antara 4 sampai 24 telur (rata-rata 6) penekanan pada bulan Juni atau Juli air di dekat akar pohon atau batu-batuan di bawah.

Setelah hanya beberapa minggu, ular ini meletakkan telur dalam lingkungan basah atau hangat biasanya di bawah tumpukan kayu dan tempat-tempat serupa. Telur yang putih dan sekitar 30 mm dengan ukuran 16 mm. Waktu  inkubasi adalah waktu antara 6 minggu dan 3 bulan. Kadang-kadang mereka meletakkan telur mereka dengan telur ular Viperine lain atau dengan ular rumput lain. Telur menetas sekitar 11 minggu kemudian.

Predator

Predator alami ular ini adalah berbagai mamalia seperti kucing dan burung buas. Ular ini memangsa serangga air, kebanyakan ikan kecil dan amfibi dari semua tingkatan, misalnya katak air (Pelophylax sp.) dan katak pohon (Hyla sp.).

2.      Crocodylus novaeguineae (Buaya Muara)

Ø  Klasifikasi

Kerajaan          :Animalia
Filum               :Chordata
Kelas               :Sauropsida
Ordo                :Crocodilia
Famili              :Crocodylidae
Genus              :Crocodylus
Spesies            : Crocodylus  porosus

Ø  Deskripsi

Secara umum bentuk tubuhnya menyerupai jenis kedua, dengan moncong yang lebih lebar. Perbedaan mendasar terdapat pada tengkuknya yang tidak memiliki sisik lebar serta warna kulitnya yang lebih terang. Selain itu ukuran tubuhnya adalah yang paling besar diantara jenis lainnya dengan panjang yang mampu mencapai hingga tujuh meter bahkan lebih. Crocodylus  porosus tersebar di seluruh perairan Indonesia, terutama aliran-aliran sungai hingga di muara sungai yang mendekati lautan.

Antagonisme,Keberadaan dan Statusnya

Diantara ketiganya jenis terakhir merupakan jenis yang paling banyak dikenal, karena selain ukurannya yang paling besar, Crocodylus  porosus juga menyimpan berbagai keunikan dan mitos-mitos mistis yang selalu membayanginya. Puluhan judul film mulai dari keluaran holywood, bolywood, mandarin hingga film Indonesia sudah dibintangi satwa jenis ini. Dan sekali lagi, rata-rata tokoh antagonis-lah peran dari sutradara yang harus ia mainkan.

Crocodylus  porosus tersebar di banyak negara seperti Papua Nugini, Australia Utara, Kepulauan Pasifik, Brunei, Myanmar, Kamboja, Philippina, Burma, India, Srilanka, Cina, Semenanjung Malaya, hingga Indonesia. Tapi di setiap negara populasinya makin merosot tajam sejak kulitnya diburu untuk dijual dengan harga selangit. Sehingga saat ini Crocodylus  porosus masuk ke dalam kategori Appendix 2 menurut CITES.

Satwa ini dapat hidup di darat, di dalam air maupun di atas pohon. Bergerak kesana-kemari dengan cara melata, baik dengan dua pasang kakinya maupun tidak sama sekali. Famili Crocodylus ini senang berpetualang dari satu habitat ke habitat lain, maka tak heran populasinya menyebar di pelosok dunia. Bahkan, dengan ‘bantuan’ manusia, mereka dapat berpindah habitat dari air ke pusat-pusat pertokoan dan mal bergengsi dalam bentuk tas, sepatu, dompet, ikat pinggang dan banyak lagi.

Pemburu yang Malas

Crocodylus  porosus tergolong hewan karnivora, yakni pemakan daging. Sesuai dengan ukuran tubuhnya yang besar, buaya muara memerlukan banyak makanan. Makin besar ukuran seekor buaya muara, makin banyak pula kebutuhan makannya. Mulai dari ikan-ikanan hingga hewan mamalia seperti kancil, kambing, rusa bahkan sapi bisa masuk ke dalam perutnya.

Buaya muara berburu mangsa dengan cara yang unik, yaitu cukup dengan mengambil posisi diam bagai patung yang tak berdaya. Hal ini dilakukan sebagai salah satu strategi kamuflase untuk memperoleh mangsanya. Biasanya mangsa akan terpedaya dan sama sekali tidak menyadari bahwa ia-lah yang justru mendekati mulut buaya. Kemudian tanpa disangka-sangka ia mampu bergerak secepat kedipan mata menyambar mangsanya.

Yang paling berbahaya dari Crocodylus  porosus adalah gigitannya yang sangat kokoh, sehingga dapat meremukkan tulang dari mangsanya. Gigi-gigi Crocodylus  porosus umumnya adalah gigi taring yang menyebar merata di seluruh permukaan dalam mulutnya. Sehingga dengan rahang yang sangat kuat ditunjang dengan deretan gigi yang menyerupai gergaji, maka jarang ada mangsa yang dapat lolos dari gigitannya.

Perilaku, Perkembangbiakan dan Pertumbuhan

Rata-rata di habitat aslinya, hewan reptilia penyendiri ini juga hidup secara tetitori dengan membagi-bagi daerahnya. Jika salah satu buaya melanggar batas teritorialnya maka akan terjadi penyerangan. Buaya yang tadinya hanya berdiam, bisa berubah ganas ketika mengadakan perlawanan. Hewan ini dengan cepat menjadi lincah bergerak dan selalu siap menerjang.

Perkembangbiakan Crocodylus  porosus terjadi pada musim hujan. Pada musim bertelur dibulan November sampai dengan bulan April seekor induk betina mampu menghasilkan 30-60 butir telur dan akan menetas dalam tempo tiga bulan. Suhu yang optimum bagi telur untuk menetas adalah sebesar 31,6 derajat celcius. Disaat-saat seperti ini induk betina akan berubah menjadi sangat buas. Induk betina biasanya menyimpan telur-telurnya dengan membenamkannya di tanah atau di bawah seresah daun. Dan kemudian induk tersebut menunggu dari jarak beberapa meter.

Walaupun Crocodylus  porosus cukup mudah bertelur, namun tidak mudah bagi telur-telur tersebut untuk menetas. Penyebabnya selain karena faktor tanah yang tidak sesuai, perubahan suhu dan iklim, juga karena dimakan predator lain dan diburu manusia. Curah hujan yang tinggi akan mendukung kondisi Crocodylus  porosus untuk dapat berkembang biak lebih cepat. Sehingga upaya-upaya untuk mempertahankan habitat buaya yang mendukung bagi siklus hidupnya mulak diperlukan.

Saat menetas, anak Crocodylus  porosus hanya berukuran 20-30 cm saja. Crocodylus  porosus mencapai ukuran lebih dari satu meter selama lebih kurang dua tahun. Masa dewasa dari satwa tersebut adalah setelah ia berumur lebih dari 12 tahun.

Konservasi Eks-Situ melalui Penangkaran

Meski termasuk binatang buas, buaya bisa memberi nilai tambah pada kehidupan manusia. Beberapa bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan untuk banyak kesenangan manusia. Terutama kulit bagian bawah yang bermotif unik, harganya mencapai 3 dollar per sentimeter persegi. Kulit buaya sering digunakan untuk membuat tas, ikat pinggang dan jaket eksklusif. Belum lagi bagian tubuh lainnya seperti gigi buaya yang dijadikan perhiasan ataupun tangkur buaya yang dipercaya sebagai obat tradisional. Hal inilah yang menyebabkan satwa ini sering diburu secara liar.

Salah satu solusi dalam rangka ikut mencegah maraknya perburuan buaya secara liar dan mendukung upaya konservasi eks-situ adalah dengan mengembangkan usaha penangkaran buaya. Namun perlu diingat, kata penangkaran disini bermakna penangkaran yang jujur, bertanggungjawab, legal dan mengedepankan unsur konservasi eks-situ diatas komersialitas belaka. Serta pengembangan sistem penangkaran buaya yang terintegrasi dengan industri kulit buaya sampai menghasilkan produk jadi. Detil teknis penangkaran buaya telah diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor: 93/Kpts/Dj-VI/96 tentang Petunjuk Teknis Pendendalian Pemanfaatan Buaya.

Menurut peraturan internasional, jika buaya sudah dapat dikembangbiakan dan telah mencapai generasi ketiga maka sudah boleh diperdagangkan. Namun demi terlaksananya pemanfaatan jenis sumber daya alam hayati secara berkelanjutan maka diperlukan sosialisasi peraturan dan transparansi kegiatan penangkaran agar berlangsung sesuai Undang-undang. Juga pemberian izin secara selektif dan tidak monopolis sehingga menguntungkan semua pihak..

Kita tentu tidak menginginkan kembali terjadinya pemboikotan masyarakat barat terhadap hasil indusri kulit buaya Indonesia seperti pada tahun 1996 yang lalu. Hal itu disebabkan karena mereka menilai Indonesia tidak mematuhi konvensi perdagangan hewan langka CITES (Convention on International Trade in Endangered Species). Akibatnya, ekspor kulit buaya Indonesia ditolak. Satu per satu penangkaran buaya di Indonesia pun tumbang. Belajar dari pengalaman pahit tersebut maka banyak sekali pembenahan yang perlu dilakukan dalam upaya pengembangan usaha pengangkaran buaya.

Sistem penangkaran buaya yang terintegrasi dengan industri kulit ditujukan untuk mengurangi maraknya produk primer kulit mentah yang diekspor, sehingga mengurangi nilai ekonomis dari kulit tersebut. Padahal jika saja kulit buaya diekspor dalam bentuk produk jadi maka akan menghasilkan devisa yang berkali-kali lipat jumlahnya. Karena sangat ironis, Indonesia yang kaya akan bahan baku sumber daya alam selama ini lebih banyak dimanfaatkan oleh negara lain. Hal itu tidak hanya terjadi pada kulit buaya, tetapi juga ikan hias, kayu gelondongan, atau pasir laut.

Banyak faktor yang menyebabkan para penangkar lebih suka mengekspor kulit dalam bentuk primer atau setengah jadi, bukan produk yang bernilai tambah. Misalnya, tidak dikenakannya pungutan ekspor (PE) kulit. Hal tersebut berarti PE kulit sebesar nol persen sehingga memberi peluang eksportir mengekspor kulit dalam bentuk primer atau setengah jadi. Selain itu, banyak pengusaha yang kurang mau tekun membangun penangkaran buaya yang terintegrasi dengan industri kulit.

 

  1. Chelonia mydas (Penyu hijau)

C. mydas disebut penyu hijau karena mempunyai warna lemak dan daging agak kehijauan. Ciri morfologinya antara lain terdapat sepasang sisik prefrontal pada kepala, tempurung berbentuk hati dengan tepi rata dan berwarna hijau coklat dengan bercak coklat tua sampai hitam. Karapas terdiri dari empat pasang costal, lima vertebral dan 12 pasang marginal yang tidak menutupi satu sama lain. Terdapat sepasang kuku pada flipper/dayung depan, kepalanya kecil dan bundar. Keping perisai punggung tukik penyu hijau berwarna hitam, sedangkan bagian ventral berwarna putih. Lokasi kegiatan pelestarian penyu hijau (C. mydas) dilaksanakan di Resort Sukamade SPTN Wilayah I Sarongan, dimana Pantai Sukamade merupakan salah satu tempat mendarat penyu di pulau Jawa bagian Timur.

Penyu termasuk jenis omnivora (pemakan segala). Pakan dapat berubah seiring dengan pertambahan umur. Menurut Nuidja (1979), tukik pada tahun pertama bersifat carnivora. Hal ini terbukti dengan ditemukannya jelly fish, sponges, crustacea pelagic, mollusca dan sel fish di dalam ususnya. Ketika meningkat menjadi dewasa menjadi herbivora atau carnivora. Makanan utamanya adalah ganggang, rumput laut, dan daun bakau. Kegiatan pemeliharaan dan pembesaran tukik penyu Hijau dilaksanakan selama 1 tahun dan setiap 3 bulan dilakukan pelepasan tukik.

Kegiatan yang dilakukan untuk menghindari kepunahan akibat faktor negatif serta untuk atraksi ekowisata bagi turisdilakukan beberapa langkah pengamanan, yaitu :

  1. Pemindahan telur ke penetasan semi alami

Pemindahan telur dilakukan setelah induk penyu kembali ke laut. Pemindahan dari sarang alami ke sarang semi alami harus dilakukan dengan hati-hati karena sedikit kesalahan dalam prosedur akan menyebabkan gagalnya penetasan.

2.   Penetasan semi alami

Telur yang telah diambil dari sarang alami dipindahkan ke lokasi penetasan di dalam ruangan. Telur dimasukkan kedalam media penetasan dimana kapasitas media dalam menampung telur disesuaikan dengan besar kecilnya media. Lamanya penetasan sejak telur diambil sampai telur menetas menjadi tukik adalah selama 60 hari. Setelah tukik menetas kemudian dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan yang berisi air laut.

3.   Pemeliharaan tukik

Dalam kegiatan ini perlakuan pemberian pakan dalam bak/ember plastik berukuran besar adalah sebagai berikut :

Setiap ember diisi sebanyak 25 ekor tukik.

Jenis pakan yang digunakan adalah ebi (udang kering/geragu) dan sekali-kali diberi pakan daging ikan rucah/cacah.

Pakan diberikan 2 kali sehari sebanyak 10-20% dari berat tubuh tukik dengan cara menyebarkan ebi secara merata.

Waktu pemberian pakan adalah pagi dan sore hari.

Selain itu kondisi air dalam bak pemeliharaan harus diperhatikan. Pergantian air dilakukan 2 kali dalam sehari sesudah waktu makan. Hal ini terkait dengan tingkat kekeruhan dan suplai makanan yang berasal dari laut.

4.   Pelepasan tukik

Pelepasan tukik dilakukan pada waktu sore hari sekitar jam 17.00-17.30 WIB. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga rantai makanan dari ekosistem tetap eksis, karena tukik memiliki peran sebagai prey bagi hewan pemangsanya.

5    Faktor gangguan

Banyak gangguan terhadap penyu akan menghambat perkembangan populasinya di alam. Bahkan dapat menyebabkan penurunan populasi. Faktor-faktor tersebut antara lain :

Ø  Gangguan di alam

Pencemaran air dan pemanfaatan pantai dengan tujuan lain akan mempengaruhi habitat populasi penyu. Selain itu perubahan iklim, suhu udara dan air dapat membahayakan tukik-tukik yang baru menetas.

Ø  Gangguan oleh manusia

Pemungutan/pencurian telur-telur penyu dari pantai akan jumlah populasi di alam. Sedangkan penangkapan penyu dewasa untuk diambil daging ataupun karapasnya akan mengurangi jumlah penyu dewasa yang bertelur di pantai.

Ø  Hewan liar

Hewan predator bagi penyu meliputi hewan laut dan darat. Kepiting, biawak dan elang laut adalah predator darat bagi tukik. Sedangkan predator yang berasal dari laut adalah ikan hiu dan ikan cucut.

 

 

 

 

 

 

 

 

4. Alligator  sinensis

Klasifikasi             

Kerajaan          :Animalia
Filum               :Chordata
Kelas               :Sauropsida
Ordo                :Crocodilia
Famili              :Alligatoridae
Genus              :Alligator
Spesies            : Alligator  sinensis

Alligator adalah hewan yang masih berkerabat dekat dengan buaya (famili Crocodilian). Nama alligator diambil dari bahasa Spanyol el laganto (sang kadal) yang diingriskan. Perbedaan alligator dengan buaya (crocodile) terlihat jelas dari bagian mulut dan gigi, mulut alligator terlihat lebih lebar dan bibir tampak rapi menutupi gigi. Sedangkan buaya mempunyai mulut agak memanjang dan membentuk huruf V, dan banyak terlihat gigi yang keluar dari bibir, walaupun dalam keadaan mulut tertutup. Khususnya gigi keempat bagian bawah.

Terdapat 2 spesies alligator di dunia:

Di samping itu terdapat lagi 6 spesies Caiman, yang masih juga keluarga alligator (masih anggota keluarga besar Crocodilian, yang total semuanya beranggotakan 23 spesies).

Famili Alligatoridae memiliki ciri-ciri bentuk moncongnya yang tumpul dengan deretan gigi pada rahang bawah tepat menancap pada gigi yang terdapat pada rongga pada deretan rahang atas sehingga pada saat moncongnya mengatup hanya deretan gigi pada rahang atasnya saja yang terlihat.dapat mencapai umur maksimal hingga 75 tahun. Tahan terhadap suhu rendah.memiliki lempeng tulang pada punggung dan bagian perut bawah memiliki sisik dari bahan tanduk yang lebar.yang berjumlah lebih dari 6 sisik.

Habitat

Ada dua negara di dunia yang memiliki alligator: Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina. Alligator China terancam punah dan tinggal hanya di lembah Sungai Yangtze. Alligator Amerika ditemukan di Amerika Serikat dari Carolina sampai Florida dan sepanjang Gulf Coast. Mayoritas Alligator Amerika tinggal di Florida dan Louisiana. Di Florida sendiri, terdapat lebih dari 1 juta alligator. Amerika Serikat adalah satu-satunya negara yang memiliki keduanya, alligator dan buaya. Alligator Amerika tinggal di lingkungan air tawar, seperti kolam, rawa-rawa, daratan basah (wetland), dan sungai. Di Tiongkok, mereka hanya tinggal di sepanjang Sungai Yangtze.

Perilaku

Alligator adalah hewan yang hidup sendiri. Spesies terbesarnya (jantan dan betina) akan mempertahankan wilayah utamanya. Mangsa utama alligator adalah hewan yang lebih kecil yang dapat mereka bunuh dan makan dalam satu gigitan. Alligator terkadang juga memangsa hewan yang lebih besar dengan cara mencengkramnya dan menenggelamkannya di dalam air.

Reproduksi

Alligator adalah hewan yang berkembangbiak secara musiman. Masa kawin pada musim semi ketika air hangat. Alligator berkembangbiak secara bertelur.

 

 

5. Draco Volans (Cecak terbang)

Klasifikasi                                                     

Filum        :Chordata

Subfilum  : Vertebrata

Kelas         : Reptilia

Ordo         : Squamata

Subordo   : Sauria

Famili       : agamidae

Genus       : Draco

Spesies      : Draco volans

                 

Deskripsi

Cecak terbang atau cekibar adalah sejenis reptil yang termasuk ke dalam suku (familia) Agamidae. Kadal lain yang masih sesuku adalah bunglon dan soa-soa (Hydrosaurus sp.). Cecak terbang sesungguhnya tidak termasuk kerabat dekat cecak seperti halnya tokek (suku Gekkonidae).

Cekibar kampung adalah jenis cecak terbang yang kerap dijumpai di Jawa. Kadal ini dikenal dengan nama ilmiah Draco volans Linnaeus, 1758. Nama lokalnya di antaranya adalah cekibar (Betawi), hap-hap (Sunda), dan celeret gombel atau klarap (Jawa). Dalam bahasa Inggris disebut flying lizards atau flying dragon.

Kadal yang berukuran agak kecil, panjang total hingga 200 mm. Patagium (‘sayap’) berupa perpanjangan enam pasang tulang rusuk yang diliputi kulit. Sisi atas patagium dengan warna kuning hingga jingga, berbercak hitam. Sisi bawah abu-abu kekuningan, dengan totol-totol hitam.

Kepala berbingkul-bingkul, bersegi-segi dan berkerinyut seperti kakek-kakek; dengan kantung dagu berwarna kuning (jantan) atau biru cerah (betina), dan sepasang sibir kulit di kiri kanan leher. Rigi mahkota kecil, terletak di sisi belakang kepala. Mata khas kadal agamid, dengan pelupuk tebal menonjol.

Dorsal (sisi atas tubuh) berwarna coklat sampai kehitaman atau keabu-abuan, warna bisa berubah menjadi lebih gelap atau lebih terang bila merasa terganggu. Sepanjang vertebra (tulang belakang) terdapat pola bercak-bercak hitam yang teratur letaknya: mulai dari ubun-ubun, belakang kepala, tengkuk, kemudian membesar dan berubah menjadi pola hitam kecoklatan setengah lingkaran di tiga titik di punggung (dorsum) dan satu di pangkal ekor. Pola warna semacam ini merupakan samaran yang baik di pepagan pohon.

Ventral (sisi bawah tubuh) abu-abu keputihan, agak kehijauan di sisi medial (garis tengah tubuh); dengan titik-titik kecoklatan di arah lateral (sebelah pinggir tubuh). Ekor sekitar 1½ kali panjang tubuh; berbelang-belang di ujung, dengan sisik-sisik yang berlunas kuat menjadikannya nampak bersegi-segi.

Distribusi

Hewan ini menyebar mulai dari barat daya hutan tropic di Asia, India, Thailand dan Semenanjung Malaya di barat; Kepulauan Filipina di utara; Sumatra, Mentawai, Riau, Natuna, Borneo, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur.

Habitat

Cekibar kampung biasa didapati di pekarangan, kebun, hutan sekunder. Kerap kali hewan ini teramati sedang berburu serangga di pepagan hingga ke cabang-cabang pohon. Terkadang cekibar berpindah tempat dengan cara ‘terbang’, yakni meloncat dan melayang dari satu pohon ke lain pohon.

Pada musim kawin, kerap dijumpai beberapa ekor jantan berkejaran dengan betinanya di satu pohon yang sama. Menyimpan telur di dalam tanah gembur atau humus di dekat pangkal pohon; betinanya menggali tanah dengan menggunakan moncong

Reproduksi

Ketika Cecak terbang jantan bertemu dengan hewan lain, kemungkinan dia akan mengembangkan sebagian atau seluruh sayap dan menunjukkan kombinasi antara sisik dan sayap atau menggerakkan sayap ke atas dan ke bawah. Jika bertemu betina, sayapnya membentuk hamper seperti lingkaran dan totolan yang lebih lebar hingga membuatnya kelihatan muncul lebih lebar.

Tidak diketahui kapan tepatnya masa reproduksi muncul tapi diasumsikan kira-kira daru bulan Desember dan Januari. Pada masa ini jantan dan betina menunjukkan beberapa gambaran. Hal tersebut termasuk pelebaran sayap dan menggerakkan sebagian tubuh ketika bertemu lawan jenis terdekat atau lainnya. Cecak terbang jantan akan melebarkan totolan kemudian tubuhnya berada pada posisi tegak sepenuhnya dan mengelillingi betina 3 kali waktu sebelum terjadi kopulasi (Hairston, 1957)

Cecak terbang betina kemudian akan membuat sarang untuk telur dari kekuatan kepalanya ke tanah untuk menciptakan lubangan kecil di tanah. Betina ini kemudian akan meletakkan kira-kira 5 telur ke lubang dan menutupnya dengan kotoran, membungkusnya dengan tanah dengan menggerak-gerakkan kepalanya. Setelah 24 jam kemudian, betina akan menjaga telur dengan waspada. Setelah periode ini berakhir, tidak ada tanda-tanda munculnya kelanjutan penjagaan telur. Masa inkubasi telur kira-kira 32 hari (Card, 1994).

 (Dipsosaurus dorsalis) Iguana gurun

A.Klasifikasi                                      B. Gambar       

Kerajaan  : Animalia

Divisi       : Chordata

Kelas        : Sauropsida

Ordo        : Squamata

Famili       : Iguanidae

Genus      : Dipsosaurus

Spesies     : D. dorsalis

 

 

C. Deskripsi

Spesies Iguana yang pertama kali dijelaskan di Katalog Utara Amerika Reptil, oleh Spencer Fullerton Baird dan Charles Frédéric Girard) pada 1853 sebagai Crotaphytus dorsalis ia mengklasifikasikannya, dua tahun kemudian sebagai Dipsosaurus dorsalis oleh Edward Hallowell. Spesifik nama, dorsalis, dari Latin dorsum arti kata “kembali”, dalam rujukan kepada berturut-turut diperbesar skala tulang punggung pada bagian tengah belakang dari kadal yang membentuk jambul yang meluas hampir ke ujung dari ekor. Dipsosaurus adalah monotypic genus dengan D. dorsalis menjadi satu-satunya spesies dikenali(Anonima. 2009).

Iguana gurun adalah ukuran medium (10-16 inci), kulit kadal yang berwarna dengan ekor panjang. Snout-vent-nya dapat mengukur panjang hampir enam inci, dan ekor hampir 1 1 / 2 kali lagi. Memiliki bukaan telinga kecil dan bulat di kepala serta kaki yang kuat. Sirip belakang didominasi cahaya span cream mewarnai tubuh, dan di sekitar sirip belakang tempat untuk berderingnya ekor. Sempitmemanjang ke samping dengan warna yang mendekati gelap, terutama di pusat dan daerah posterior sirip belakang. Kelompok warna dan garis yang terjadi di berbagai permukaan kulit kebanyakkan coklat dan abu-abu. Sirip belakang dengan skala yang keeled, dan menjadi sedikit lebih besar bagian tengah bawah bagian belakang. Ini bentuk yang baik diperlihatkan dengan jambul yang membentang di sepanjang bagian belakang dan diminishes bawah panjang dari ekor. Kedua jenis kelamin memiliki corak kemerah-merahan pada sisi pemeliharaan selama musim. Warna kulit kadal pucat abu-abu-tan ke dalam krim dengan warna coklat terang kebanyakkan pola pada punggung dan sisinya. Di Bawah tengah bagian belakang adalah baris-sedikit diperbesar, keeled sirip belakang menjadi skala yang lebih besar karena anda bergerak ke bawah bagian belakang (Schwenkmeyer, Dick).

D.Habitat

Didalam kisaran yang berupa semak, terutama daerah kering, gurun pasir di bawah 3300 °F selain itu juga bisa ditemukan di rocky streambeds hingga 3300 °F. Pada bagian selatan dari rentang ini kadal tinggal di wilayah gersang tropis dan subtropis semak daun hutan. (Anonima. 2009). Biasanya ditemukan pula dibawah 1.520 m (3300 °F) (Macey dan Papenfuss 1991), dan jangkauan luas di California yang tumpang tindih kreosot semak. Desert penggosokan, mencuci dan berair belukar habitat digunakan, seperti alkalai semak. Hal ini paling banyak ditemukan di dalam sandy kreosot flat tetapi juga dapat ditemukan di daerah perbukitan batu atau (Norris 1953, Stebbins 1954). Desert Iguana yang berkisar dari Mojave Desert daerah timur-tengah dan selatan California Nevada Arizona ke barat dan melalui daerah gurun di semenanjung Baja California, Sonora, dan Sinaloa di Meksiko. Kadal ini tinggal di flat luas dan berpasir hummocks karakteristik dari kreosot Woodlands dari Mojave Sonoran dan pasir. Kreosot semak yang menyediakan makanan, tempat tinggal, dan kangaroo rat burrowing situs yang mudah digunakan oleh Desert Iguanas untuk melepaskan diri predaktor dan iklim panas yang ekstrim.

Padang gurun Iguana (Dipsosaurus dorsalis) adalah salah satu Iguana yang paling umum dari Sonoran dan pasir Mojave dari barat daya Amerika Serikat dan barat laut Mereka juga tersebar di beberapa Gulf pulau California.

Lizards ini adalah yang tercepat dari gurun lizards pengeritingan ekor mereka atas punggung mereka sambil berjalan. Makhluk yang paling panas-toleran kadal tampaknya aneh bahwa gurun Iguana akan menutup pintu masuk ke atas dan bersembunyi di dalam sekali; sampai dianggap, bahwa jika predator tidak tahu ada lubang di sana, mereka akan cenderung melewati menyadarinya ada adalah mangsa dalam inci. The Desert Iguana kelihatannya terutama tertarik ke kuning wildflowers, dan tampaknya lebih kuning blossoms dari kreosot bush sering naik cabang untuk mencapai sedikit bunga.

Perilaku: The Desert Iguana tolerates ekstrim panas yang lebih baik dari lainnya desert lizards, dan sering dianggap perching pada tempat menonjol seperti batu besar atau pasir Mounds.

Diet: Desert Iguanas dianggap Vegetarians, tetapi telah diamati dan makan serangga, dalam tahanan, akan memakan mealworms saat yang ditawarkan. Kadal tersebut terutama tertarik ke kuning bunga seperti yang ditemukan di semak-semak di mana mereka kreosot naik di antara mereka di cabang quest untuk makanan.

E. Reproduksi

Breeding: Sedikit yang diketahui tentang siklus reproduksi mereka, meskipun akan percaya bahwa perkawinan terjadi selama April dan Mei. Tiga sampai delapan telur yang diletakkan tengah musim panas, dan hatchlings mulai muncul pada bulan September(Anonima. 2009).

Bronchocela  jubata (Bunglon Surai)

A. Klasifikasi                                               B. Gambar

Kerajaan    : Animalia

Filum         : Chordata

Kelas         : Reptilia

Ordo          : Sauria

Famili        : Agamidae

Genus        : Bronchocela

Spesies      : Bronchocela  jubata

C. Deskripsi

Bunglon mempunyai panjang total hingga 550 mm, dan empat-perlimanya adalah ekor. Gerigi ini terdiri dari banyak sisik yang pipih panjang meruncing namun lunak serupa kulit.Kepalanya bersegi-segi dan bersudut. Dagu dengan kantung lebar, bertulang lunak. Mata dikelilingi pelupuk yang cukup lebar, lentur, tersusun dari sisik-sisik berupa bintik-bintik halus yang indah.Dorsal (sisi atas tubuh) berwarna hijau muda sampai hijau tua, yang bisa berubah menjadi coklat sampai kehitaman bila merasa terganggu. Sebuah bercak coklat kemerahan serupa karat terdapat di belakang mulut di bawah timpanum. Deretan bercak serupa itu, yang seringkali menyatu menjadi coretan-coretan, terdapat di bahu dan di sisi lateral bagian depan; semakin ke belakang semakin kabur warnanya.Sisi ventral (sisi bawah tubuh) kekuningan sampai keputihan di dagu, leher, perut dan sisi bawah kaki. Telapak tangan dan kaki coklat kekuningan. Ekor di pangkal berwarna hijau belang-belang kebiruan, ke belakang makin kecoklatan kusam dengan belang-belang keputihan di ujungnya.Sisik-sisik bunglon surai keras, kasar, berlunas kuat; ekornya terasa bersegi-segi. Perkecualiannya adalah sisik-sisik jambul, yang tidak berlunas dan agak lunak serupa kulit.

Bunglon memiliki sel-sel warna di bawah permukaan kulitnya yang transparan, yang meliputi warna merah, kuning, putih, biru, coklat dan hijau. Warna-warna dalam tubuh bunglon ini terjadi sesuai keadaan cahaya dan suhu di luar tubuhnya. Jika itu terjadi, faktor kimia di dalam tubuh bunglon segera bereaksi yang menyebabkan lapisan sel ini berkontraksi atau melebar. Jadi, perubahan kulitnya terjadi sebagai respon atas suhu, cahaya dan juga mood atau emosinyanya.

D. HABITAT

Bunglon yang sering ditemukan di semak, perdu dan pohon-pohon peneduh di kebun dan pekarangan. Sering pula didapati terjatuh dari pohon atau perdu ketika mengejar mangsanya, namun dengan segera berlari menuju pohon terdekat.

E. DISTRIBUSI

Bunglon ini menyebar di pulau-pulau Jawa, Borneo, Bali, Singkep, Sulawesi, Karakelang dan Kep. Salibabu dan Filipina.

F. REPRODUKSI

Bunglon mempunyai siklus hidup singkat yakni 4-5 bulan. Sebab, sepanjang hasil pengamatannya, bunglon ini melakukan hubungan seks yang lama, kasar, dan menyakitkan.

Bunglon begitu agresif dan berumur pendek karena mempunyai kadar androgen yang tinggi, tubuh mengkonsumsi energi yang tinggi dan akan menekan system kekebalan tubuh, akibatnya usia hidupnya pendek.

Menjelang tewas, bunglon-bunglon betina menyimpan telur-telurnya di lubang tanah. Masa inkubasi berlangsung selama delapan bulan dan kembali menetas pada bulan November. Siklus tersebut terus berulang sehingga populasi bunglon senantiasa seragam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: