menjadi apapun dirimu

Published Desember 17, 2011 by armeinachevana

Menjadi karang-lah, meski tidak mudah. Sebab ia ‘kan
menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia
‘kan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa
kenal lelah. Sebab ia ‘kan melawan bayu yang keras
menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba
membekukan. Sebab ia ‘kan menahan hempas badai yang
datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan
keteguhannya. Sebab ia ‘kan kokohkan diri agar tak
mudah hancur dan terbawa arus.Sebab ia ‘kan berdiri
tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad,
tanpa rasa jemu dan bosan.

Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu
tidak mudah. Sebab ia ‘kan tatap tegar bara mentari
yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia ‘kan
meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia ‘kan
terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab
ia ‘kan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab
ia ‘kan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan.
Sebab ia ‘kan senantiasa berikan bebuahan yang manis
dan mengenyangkan. Sebab ia ‘kan berikan tempat
bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya.
Sebab ia ‘kan berikan tempat berlindung dengan rindang
daun-daunnya.

Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah. Sebab dengan
sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung
samudera. Sebab besar tubuhnya ‘kan menakutkan musuh
yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat
tenang laut dan seisinya.

Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski
itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi
menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang
buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan
angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus
mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus
kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia
harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia
harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang
membentang gagah.

Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab
ia ‘kan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan.
Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia
tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab
ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab
ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar.
Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang
menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada
anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada
tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu
karena pahami hakikat hidupnya.

Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia
berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu
sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia
begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata.
Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan
yang hitam.

Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab
ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya
saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa
bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari
segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat
untuk keluar.

Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai,
juga gelombang.
Elang akan menembus lapis langit,
mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah
untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya.
Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit
gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau
matahari, namun selalu berusaha menaungi.
Melati ikhlas ‘tuk selalu menerima keadaannya, meski tak
terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala
kecantikannya.
Kupu-kupu berusaha bertahan, meski
saat-saat diam adalah kejenuhan.
Mutiara tak memudar
kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di
kiri-kanan, depan dan belakang.

Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang
menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang
melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus
menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas
samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi
beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang
lapang, dan justru terlihat indah dengan segala
kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimanapun ia
terletak, dimanapun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah
dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam
kesendirian.

Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab
kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini
kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu.

Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus
yang besar, pohon yang menjulang dengan akar
menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara
yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi,
tetaplah sadari bahwa kita adalah hambaNya. …..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: