Augmentasi (Inokulasi & Inundasi)

Published Maret 30, 2012 by armeinachevana

            Strategi pendekatan dalam pengendalian hayati adalah Augmentasi yang meliputi inokulasi  dan inundasi.  Potensi penggunaan strategi untuk menekan hama arthropoda telah dilakukan bertahun-tahun (DeBach, 1964; Doutt & Hagen, 1949; King et al., 1985; Parella  et al., 1992; Ridgway & Vinson, 1977; Stinner, 1977).  Definisi Augmentasi adalah melepaskan dalam jumlah besar musuh alami yang telah diproduksi massal dengan tujuan untuk meningkatkan populasi musuh alami di habitat pelepasan atau membanjiri (inundasi) populasi hama dengan musuh alami. Definisi Augmentasi menurut Eilenberg et al. (2001) telah dibagi menjadi 2 yaitu

Inundatif dan inokulatif. Dimana definisi untuk inundatif adalah “the use living organism to control pests when control is achieved exclusively by organism themselves that have been released”, sedangkan untuk inokulatif adalah “The intentional release of a living organism as biological control agents with expectation that it will multiply and control the pest an extended period, but not it will do so permanently”.

            Penggunaan strategi ini disebabkan oleh adanya populasi sangat rendah, seperti secara alamipopulasi  parasitoid atau predator gagal untuk berkolonisasi atau koloni terlambat pada musim ini untuk mengendalikan hama.  Douttt & Hagen (1949) adalah ilmuwan pertama yang mengadakan penelitian secara experimental menggunakan pendekatan ini lebih dari 56 tahun yang lalu. Mereka melepaskan green lacewing untuk mengendalikan mealybug  pada pohon pear.  Sejak itu banyak para ilmuwan meneliti secara experimental untuk memproduksi secara massal musuh alami (King  e al., 1985; Parella  et al, 1992 ; Ridgway & Vinson, 1977; Stinner, 1977) dan penjualan musuh alami untuk augmentasi secara komersial telah tumbuh dengan pesat di negara-negara barat (Eropa barat dan USA) (Cranshaw et al, 1996; van Lenteren et al., 1997).

 

Perbedaan Inokulasi dan inundasi

 

Kategori

Inokulatif

Inundatif

Tujuan populasi Progeni dari musuh alami yang dilepas diharapkan survive dan multiply Musuh alami dilepas tanpa ada ekspetasi progeny untuk survive (as released)
Populasi hama target Generasi hama yang akan datang (musim selanjutnya) Generasi hama saat dilepas
Strategi Preventif Kuratif

 

Pada banyak sistim pertanian, musuh alami tumbuh dan berkembang sangat lambat dan hanya menyebabkan kematian hanya pada akhir musim.  Dengan pelepasan sejumlah musuh alami pada awal musim ke dalam lahan pertanian dengan tujuan agar populasi hama pada awal musim dapat dikendalikan.  Inokulasi sebagai tipe augmentasi dapat dilakukan setiap musim tanam.  Inokulasi ini sekarang menjadi standar untuk penggunaan untuk mengendalikan tungau, aphid, dan kutu kebul (whitefly) di sistim pertanaman dalam greenhouses, dapat juga diterapkan pada sistim pertanaman terbuka (lahan).

Inundasi adalah pendekatan yang kita ambil ketika musuh alami atau pengendalian lain gagal untuk mencegah peningkatan populasi hama menuju level merusak. Disini kita mencari solusi secara cepat untuk menurunkan populasi.  Pendekatan pelepasan musuh alami seperti ini dapat disamakan dengan aplikasi pestisida dan musuh alami yang dilepaskan tidak ditujukan untuk stabil atau mengendalikan hama pada generasi selanjutnya.  Beberapa kali aplikasi dibutuhkan dalam satu musim tanam.  Kebanyakan aplikasi insektisida mikroba atau biopestisida yang mengandung patogen serangga seperti Bacillus thuringiensis, Metarhizium anisopliae, Beauveria dikategorikan sebagai inundasi.  Aplikasi parasitoid telur Trichogramma sp. untuk mengendalikan hama stem borer dari Lepidoptera juga dikategorikan sebagai inundasi

 

Table 7.1 Ringkasan analisis efikasi dan ekonomi dalam augmentasi (Collier & van Steenwyk, 2004)

 

 

 

Tabel 7.2 Langkah-langkah pengembangan augmentasi musuh alami (Hajek, 2004)

 

      Enam langkah pengembangan augmentasi musuh alami
  1. Identifikasi pasar untuk solusi pengendalian hama
  2. Identifikasi efikasi strain musuh alami untuk produkasi, efikasi ini baik untuk hama target dan biaya produksi
  3. Pengembangan metode produksi massal
  4. Pengembangan metode penyimpanan
  5. Pengembangan metode transportasi
  6. Pengembangan metode pelepasan dan jumlah yang dibutuhkan dalam pelepasan pada berbagai situasi yang berbeda.

 

 

Ada dua aspek yang diperhatikan didalam produksi massal musuh alami untuk program augmentasi yaitu kebutuhan pasar dan spesifitas inang.  Augmentasi tidak akan diadopsi oleh petani selama kontinuiatas suplai produk terjamin, produk itu memang dibutuhkan, dan harga itu terjangkau bagi petani untuk membeli secara kontinu.  Sangatlah sulit memproduksi musuh alami seperti memproduksi pestisida sintetik, karena sering kali musuh alami tidak dapat disimpan terlalu lama, dan akan terjadi penurunan tingkat survivalnya ketika lama disimpan. Sering kali juga musuh alami ini harus segera dilepaskan ketika sudah sampai ke konsumen (petani). Bagi perusahaan yang memproduksi musuh alami haruslah mampu menangkap peluang dan memprediksikan pasar karena kebutuhan petani sering kali tidak bisa dipastikan dan sulit diprediksi.  Ini sangat krusial karena produksi massal membutuhkan dukungan pasar actual.  Hal terpenting disini adalah bahwa petani haruslah dididik akan pentingnya musuh alami di areal pertaniannya ,bagaimana menggunakannya (sederhana) dan mendapatkan manfaat yang lebih jika dibandingkan menggunakan pestisida.

Spesifitas inang adalah merupakan aspek yang yang penting dalam pengembangan augmentasi.  Musuh alami yang mempunyai sebaran inang yang lebih sedikit lebih aman untuk lingkungan dan juga keterbatasan inang bagi musuh alami mengurangi efek samping, terutama efek non target. Musuh alami yang mempunyai inang terbatas akan dapat lebih mampu menekan populasi hama.  Akan tetapi terlalu spesifik inang juga akan mempengaruhi biaya produksi.  Jadi dalam prakteknya spesifitas inang digunakan pada augmentasi jika digunakan hama yang menyerang tanaman bernilai tinggi.

Salah satu konstrain yang juga penting dalam pengembangan augmentasi adalah adanya kesinambungan finansial untuk produksi massal, pelepasan dan monitoring. Pelepasan musuh alami pada inokulasi lebih sedikit bila dibandingkan dengan inundasi, sehingga produksi massal untuk inokulasi lebih sedikit dibandingkan untuk inundasi. Ini juga berarti problema produksi massal pada inokulasi umumnya lebih sedikit atau tidak kompleks dibandingkan dengan inundasi. Musuh alami yang digunakan untuk inokulasi dapt diproduksi dengan menggunakan inangnya dengan teknologi yang sederhana. Akan tetapi, produksi massal untuk inundasi, maka efisiensi produksi massal adalah hal yang esesnsial.  Memproduksi secara massal musuh alami untuk inundasi, kebanyakan perusahaan berusaha menggunakan bahan pengganti yang lebih murah untuk inang dan tanaman inangnya, menggunakan sedikti luasan dan tenaga kerja.

Sebagian tambahan berhubungan dengan biaya produksi, maka fasilitas produksi massal harus mampu memproduksi dalam jumlah yang diinginkan dan pada waktu yang tepat.  Ini membutuhkan investasi untuk pelatihan teknisi dan kontrol kualitas yang ketat. Ketika produksi massal sudah menghasilkan, maka kita harus mempunyai metide pendistribusian secara cepat dan petani harus mengerti bagaimana cara pelepasan dan  mengapa mereka harus mengikuti petunjuk detail yang diberikan.

Dengan dengan demikian produksi massal ini hanya feasible untuk memproduksi musuh alami yang ukuran tubuhnya kecil, cepat reproduksi, menggunakan material yang murah dan bisa dikembangkan pada inang alternatif atau material buatan (artificial). Trichogramma dan tungau predator adalah contoh musuh alami yang mudah dikembangkan biakan dalam program augmentasi.

Meskipun musuh alami telah mampu mengontrol secara efektif hama dalam uji coba di laboratorium, akan tetapi banyak hal/kondisi yang harus tetap diperhatikan sebelum menjalankan program augmentasi yaitu :

 

  • Waktu pelepasan haruslah hati-hati untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, oleh sebab itu monitoring hama yang meliputi populasi hama dan stadia perkembangannya diperlukan. Jika penerapan PHT itu ada, maka program monitoring harus dijalankan.
  • Penjaminan kontinuitas pasokan/suplai dari musuh alami, ini membutuhkan staf teknisi dan fasilitas yang memadai yang dapt menjamin musuh alami diproduksi pada jumlah yang dibutuhkan dan pada waktu yang diperlukan.  Sistim deliveri harus efisien dan menjamin musuh alami dalam kondisi terbaik ketika akan dilepas. Kontrol kualitas adalah kata kuncinya.
  • Biaya produksi massal harus kompetitif, dimana biaya produksi cenderung akan naik , akan tetapi haruslah tetap tidak mahal.  Kompetitif ini dikaitkan dengan harga pestisida sintetik di pasar terbuka.
  • Petani membutuhkan kejelasan manfaat dari program augmentasi ini.  Hal ini penting karena agens pengendali hayati mempunyai sifat mudah hilang/punah/perishable dan harus diaplikasikan pada waktu yang tepat dan dalam kondisi yang menguntungkan, dan aplikasi augmentasi ini umumnya membutuhkan ekstra kerja dan manajemen yang lebih dibandingkan dengan penggunaan pestisida, oleh sebab itu meyakinkan petan akan keuntungan yang didapt setelah menginvestasikan usaha dan waktunya adalah hal yang krusial.

 

INOKULASI

Strategi inokulasi banyak telah dilakukan dinegara dengan klimat temperate (Eropa dan USA), dimana musim dingin akan dapat menghambar atau mengurangi populasi musuh alami pada tanaman di musim tanam yang akan datang.  Sebagai contoh serangan kutukebul Trialeurodes vaporariorum yang merupakan hama tanaman sayuran pada pertanaman di greenhouse dapat dikendalikan dengan melepas parsitoid Encarsia Formosa pada musim semi, karena hama ini bisa survive pada musim dingin dengan jumlah sedikit, tapi musuh alaminya tidak.

Beberapa perusahaan telah memproduksi dan menjual Encarsia dan paraistoid lain untuk inokulasi terhadap kutukebul, aphids, dan hama penggorok daun.  Parasitoid ini umumnya dikemas pada stadia pupa yang ada pada inangnya pada sebuah kertas.  Koppert B.V, dari Netherland adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang produksi massal musuh alami (parasitoid, predator & patogen) bisa diakses pada www.koppert.com.

 

Rearing musuh alami untuk inokulasi

Strategi yang baik untuk produksi massal musuh alami untuk inoulasi adalah menset-up kultur setiap musim untuk setiap individual yang diambil dari lapang pada akhir musim tanam.  Untuk menjaga keragaman genetic dan mencegah adaptasi terhadap kondisi di laboratorium, diharapkan kultur dimulai dengan sebanyak mungkin individu musuh alami.  Apabila dalam kultur itu kita mulai dari serangga dewasa, maka harus terjamin dari serangan hiperparasit atau penyakit.  Dan juga mulai dengan stok yang sehat sebelum memulai memproduksi massal musuh alami.

Setelah rearing musuh alami telah mapan, maka yang tidak kalah penting diperhatikan adalah menjaga tingkat hygiene secara ketat untuk menghindar penyakit atau hiperparasitoid. Jangan menggunakan ruangan rearing untuk kepentingan lain dan gunakan aturan yang ketat terhadap keluar masuknya orang ke dalam ruangan rearing.  Salah satu untuk menghindari kegagalan rearing, adalah menjaga tanaman inang dari kontaminasi penyakit. Jika ini sering terjadi, maka penggunaan makanan buatan untuk inang, tapi perlu diingat bahwa banyak parasitoid mendapat rangsangan untuk menemukan inang dari senyawa kimia yang dikeluarkan tanaman inang dan kemungkinan tidak akan reproduksi secara baik tanpa tanaman inang.

Panjang siklus hidup dan bagaimana temperatur berpengaruh terhadap perkembangan musuh alami yang akan kita produksi massal sangat penting untuk diketahui.  Kita dapt mengatur temperatur sehingga dapat mempercepat atau memperlambat produksi massal sehingga akan selalu tersedia musuh alami pada saat yang tepat untuk dilepaskan diawal musim tanam.

Musuh alami yang telah kawin atau telah masak kelamin juga menentukan tingkat keberhasilan pelepasan musuh alami di lapang.  Musuh alami yang secara fisiologi belum masak kelamin atau belum kawin akan mengalami kegagalan untuk mapan di lapang.

 

Waktu pelepasan

Ada dua strategi pelepasan musuh alami dalam inokulasi yaitu :

U  Pelepasan langsung ke dalam populasi hama

U  Pelepasan hama pertama

 

Pada pelapsan langsung , yang perlu diperhatikan adalah kecukupan populasi mangsa atau inang agar musuh alami dapt mapan dan kesinambungan populasi musuh alami yang sehat akan dapt mengendalikan populasi hama pada generasi selanjutnya.  Waktu/saat pelepasan adalah problema utama  dengan pelepasan musuh alami.  Jika kita melepas terlalu awal, maka musuh alami akan mengalami kegagalan untuk mapan karena inangnya terlalu sedikti, tetapi jika terlalu lambat , maka populasi musuh alami yangada sudah tidak akan mengendalikan populasi hama yang sudah besar.

Pendekatan kedua adalah melakukan pelepasan hama pertama atau sering dikenal sebagai pest in first method.  Pada metode ini, kita menggunakan kultur untuk menciptakan populasi hama pada awal musim sebelum populasi hama yang dilapang tumbuh.  Musuh alami akan dilepaskan pada populasi hama buatan.  ketika populasi hama di lapang sudah ada, maka musuh alami akan segera tersebar.  Salah satu keuntungan dari metode ini adalah mengurangi resiko kegagalan pelepasan.  Sebagai contoh di Amerika utara petani menanam kacang-kacangan pada sebuah petak kecil.  Jauh sebelum waktu menanam tanaman utama soyabean, kemudian Mexican bean beetle dilepas pada petak tersebut untuk bereproduksi dan mapan pada petak itu, kemudian parasitoid dilepas pada petak itu.  Petak ini sering dikenal  nurse plots .  Setelah tanaman utama ditanam, maka dengan segera musuh alami akan dapat mengendalikan hama kumbang.

 

Inundasi

            Inundasi sangat ideal bagi musuh alami yang tidak mampu mengendalikan populasi hama pada seluruh musim tanam.  Strategi ini membanjiri pertanaman dengan sejumlah besar musuh alami untuk mengendalikan hama.  Karena besarnya jumlah musuh alami yang diaplikasikan, maka dalam produksi massalnya haruslah sangat efisien, murah (baik infrastruktur dan teknik), dan cepat dalam distribusi.  Hal ini penting karena musuh alami yang digunakan untuk pelepasan ini umumnya mempunyai umur pendek dan ketepatan waktu pelepasan menjadi suatu yang krusial dan kritikal dan petani membutuhkan pengetahuan bahwa musuh alami dapat mereka gunakan pada saatnya dibutuhkan.

Beberapa karakter musuh alami yang digunakan untuk inundasi adalah :

U  Musuh alami itu harus mampu membuntuh hama dengan cepat

U  Musuh alami itu menyerang ketika atau sebelum hama berada pada stadia perkembangan yang merusak. Sebagai contoh sangat tidak ada gunanya kita melepaskan parsitoid pupa, jika stadia merusak dari hama itu adalah larvanya.

 

Tabel 7.2 Musuh alami yang telah diproduksi secara komersial

 

 

Metode inundasi menggunakan serangga musuh alami umumnya difokuskan pada parasitoid telur untuk mengendalikan telur-telur serangga hama ordo Lepidoptera atau parasitoid pupa untuk mengendalikan hama pada stadia dewasa.  Dan umumnya parasitoid banyak digunakan dalam teknik dibandingkan dengan predator.  Hal ini disebabkan predator sangat sulit untuk direaring karena kita harus mampu menjamin ketersediaan mangsanya, apabila mangsanya sedikit, maka mereka mulai kanibal.  Akan tetapi dengan perkembangan efisiensi teknik, maka telah banyak predator yang telah diproduksi massal secara komersial seperti Chrysoperla carnea (lihat table 7.2).

PRODUKSI MASSAL MUSUH ALAMI

 

            Disini kita akan banyak membahas prinsip-prinsip dan problema produksi massal musuh alami.  Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa biaya untuk pekerja dan waktu haruslah tetap minimum.  Jika dalam rearing musuh alami kita mudah juga rearing inang/mangsanya dan tanaman inang, maka tidak perlu kita mencari penggantinya.  Masalah akan muncul jika kita bekerja dengan tanaman inang atau inang/mangsa yang tidak tersedia dalam jumlah besar pada produksi yang kontinu.  Rearing serangga inang juga akan menjadi masalah jika inang itu mempunyai fase diapaus (resting periode). Jika masalah-masalah itu muncul, maka teknik perbanyakn dengan menggunakan semi makanan buatan atau makanan buatan haruslah dikembangkan seefisien mungkin.

Tanaman inang pengganti (altenatif)

            Banyak sekali makanan buatan yang dapat mengganti makanan alami dari serangga inang (herbifor), akan tetapi beberapa kasus, jika serangga direaring pada makanan buatan, kadang-kadang musuh alami tidak menerimanya.  Alasan utamanya adalah musuh alami sering mnggunakan senyawa kimia yang berasal dari tanaman inang dimana serangga hama itu makan untuk menstimulasi pencarian dan peletakan telur. Problem ini sering terjadi pada parasitoid dibandingkan dengan predator.

 

Serangga inang pengganti (alernatif)

Serangga inang pengganti sangat diperlukan jika rearing serangga inang di laboratorium sangat sulit karena adanya hambatan biologi, atau keterbatasan biaya rearingnya.  Ada tiga metode yang digunakan untuk mengatasi problema ini yaitu : inang alternatif, inang yang mati, dan makanan buatan.

Serangga inang alternatf atau disebut factitious host umumnya hubungan yang dekat serangga inang utamanya, sebagai contoh penggunaan Heliothis virescens sering digunakan sebagai serangga inang pengganti Heliothis armigera, hal ini disebabkan parasitoid beroviposisi lebih baik pada H. virescensEphestia kuehniella, Sitotroga cerealella, dan Corcyra cephalonica sering digunakan untuk produksi massal parasitoid telur Trichogramma untuk mengendalikan hama Helicoverpa sp. dan Chilo spp.

Penggunaan inang yang telah mati mempunyai beberapa keuntungan, karena mudah dan segera bisa digunakan ketika dibutuhkan untuk melepas parasitoid bersama dengan inangnya. Sebagai contoh parasitoid pupa Pteromalid pada lalat rumah sering direaring pada pupa lalat rumah yang telah difrozen.  Beberapa produksi massal dari Trichogramma, parasitoid Encyrtid, dan green lacewing menggunakan telur-telur yang telah disimpan pada temperatur subfreezing atau setelah dibunuh dengan menggunakan sinar ultraviolet atau gamma.

Penggunaan makanan buatan untuk rearing musuh alami dilakukan ketika untuk rearing tanaman inang dan serangga inang mengalami kendala yang berarti.  China telah berhasil mengembangkan teknik perbanyakan Trichogramma  dengan menggunakan telur artificial yang mengandung haemolim.  Makanan buatan juga telah dikembangkan untuk memproduksi predator seperti kumbang koksinelid, green lacewing, dan kepik.

 

 

 

MENJAGA KESEHATAN DALAM REARING MUSUH ALAMI

           

            Menjaga kesehatan serangga/musuh alami yang kita rearing merupakan keharusan di dalam sebuah program augmentasi.  Ada beberapa aspek berkaitan rearing musuh alami adalah :

Ñ  Kontrol kualitas adalah problema umum rearing serangga dan menjadi aspek krusial dalam produksi secara massal musuh alami meskipun rearing musuh alami dalam skala kecil.

Ñ  Aspek efek kepadatan. Kepadatan musuh alami akan dapat mengakibatan kelaparan, laju survival yang rendah, dan mereduksi ukuran tubuh. Pada predator kepadatan ini akan mengakibatkan terjadinya kanibalisme, sedangkan pada parasitoid menyebabkan terjadinya apa yang dikenal sebagai superparasitisme, dimana satu inang diparasit lebih dari satu parasitoid dalam satu spesies.  Pada parasitoid soliter jika terjadi satu inang diparasit oleh lebih dari satu parasitoid akan meningkatkan kematian dari larva parasitoid, karena mereka akan berkompetisi didalam mencari makanan. Dan larva parasitoid yang menjadi imago adalah parasitoid yang mempunyai ukuran normal.  Pada parasitoid gregarious, superparasitisme akan menyebabkan terjadinya banyak progeny /larva dengan ukuran kecil. Ukuran imago pada gregarious sangat tergantung pada ukuran progeny.  Imago yang berukuran kecil akan mempunyai karakter : longevitas yang pendek, fekunditas yang rendah dan kapasitas pencarian yang buruk.  Parasitoid umumnya mencegah sendiri terjadinya superparasitisme dengan membuat tanda/marker pada tempat/site dimana mendepositkan telur baik diluar atau di dalam tubuh inang.  Akan tetapi, perilaku ini dapat ditembus, jika jumlah serangga inang yang ada sedikit dan parasitoid lain banyak.  Jika pada serangga inang terjadi superparasitisme yang berat, maka akan menyebabkan kematian cepat dari inang yang pada akhirnya menyebabkan kematian larva parasitoidnya. Kematian cepat ini dapt juga diakibatkan oleh banyak tusukan ovipositor parasitoid.  Menjaga stok serangga inang dalam jumlah  tertentu untuk jumlah tertentu parasitoid serta mengganti inang secara periodic, akan dapt meminimalkan efek kepadatan pada rearing musuh alami.

Ñ  Perubahan sex ratio.  Pada parasitoid hymenoptera, sex ratio bervariasi dari 1:1. akan tetapi sex ratio ini bisa terjadi 100 % betina ke 1:1 jantan:betina.  Problema umum pada rearing soliter parasitoid sex rasio ini bisa menarah ke jantan.  Perubahan sex rasio dalam produksi massal musuh alami akan menyebabkan efek pada produktivitas program augmentasi dan pada beberapa kasus menyebabkan kegagalan, karena terlalu banyaknya jantan.  Perubahan sex rasio bisa disebabkan oleh beberapa hal yaitu:

þ  Inbreeding dapat menyebabkan munculnya semua jantan

þ  Betina yang tidak kawin akan menghasilkan jantan

þ  Kebanyakan spesies cenderung meletakkan sebanyak mungkin telur bila parasitoid lain ada dan akan menyebabkan terjadinya kepadatan populasi

þ  Superparasit inang.  Jantan pada dasarnya lebih dulu muncul pada inang yang terjadi superparasit, karena jantan umumnya berkembang lebih cepat dari inangnya

þ  Jantan sepertinya diproduksi dari inang yang kualitasnya rendah atau kecil (karena betina cenderung meletakkan telurnya pada inang dengan ukuran besar)

 

Karena banyak problema jika terjadi perubahan sex rasio, maka diperlukan langkah sistematik untuk mencari mengapa terjadi perubahan sex rasio pada rearing musuh alami ?. Kita harus mulai dengan pengecekan apakah betina itu telah kawin (mated), dengan melakukan pengamatan dan pembedahan.  Jika mating betina tidak ada masalah, maka yang harus kita cek adalah kualitas serangga inang dan level kepadatannya.  Apabila perubahan sez rasio tetap terjadi, maka hal kemungkinan besar diakibatkan oleh inbreeding.  Oleh sebab itu perlu ada perbandingan musuh alami yang dari lapang dengan yang ada di fasilitas rearing di laboratorium.

 

Ñ  Perubahan genetic musuh alami di laboratorium.  Untuk mencegah terjadinya inbreeding, para ilmuwan menganjurkan untuk memulai program rearing dengan 200-500 individu yang dikoleksi dari berbagai tempat.  Pada parasitoid gregarious yang kawin didekat atau pada inangnya akan menyebabkan inbreeding dan inbreeding pada parasitoid gregarious menyebabkan efek kecil terhadap erjadinya perubahan sex rasio.  Pada parasitoid soliter inbreeding akan menyebabkan perubahan sex rasio secara drastic.

Perubahan kondisi dari hidup secara bebas di lapang kemudian beradaptasi dalam kondisi rearing di laboratorium pada beberapa parasitoid telah penurunan kapasitas pencarian inangnya atau preferensi inangnya.  Problema ini umum terjadi pada musuh alami yang direaring pada inang alternatif.  Kapasitas pencarian dan preferensi inang adalah proses perilaku yang terjadi sebagai bentuk respon parasitoid pada serial stimuli yang dikeluarkan oleh serangga inang dan tanaman inang.  Kemampuan ini kebanyakan adalah pewarisan dari induknya, akan tetapi parasitoid memerlukan learning dahulu sebelum mempunyai karakter tersebut.  Kemampuan parasitoid untuk menemukan inangnya aspek utama didalam augmentasi.  Jika problem itu disebabkan secara genetic, maka hanya dengan breeding  dan seleksi parasitoid yang mempunyai kemampuan di atas yang dapat mencegah dari problema itu dan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

 

AUGMENTASI MIKROBA

 

            Augmentasi mikroba sebagai agens pengendali hayati sangat berbeda dengan augmentasi parasitoid dan predator.  Umumnya mikroba ini lebih mudah diproduksi massal, disimpan dan diaplikasikan.  Produksi massal mikroba ini kendalanya adalah teknologi dan biaya.  Aspek-aspek yang harus diperhatikan dalam augmentasi mikroba musuh alami adalah :

Strain/spesies mikroba.  Mencari isolat/strain/spesies yang mempunyai virulensi tinggi adalah pekerjaan yang utama dalam program augmentasi mikroba.  Jika virulensi dan patogenisitas sebuah strain telah diuji di laboratorium, maka ilmuwan penyakit tanaman akan menduga bahwa tidak perbedaan virulensinya di lapang.  Hasil ini akan berbeda dengan patogen tanah, karena hasil di laboratorium dapat berbeda.  Contoh patogen Verticillium chlamydosporium akan cepat menginfeksi massa telur nematoda didaerah dekat perakaran yang menjadi puru. Akan tetapi berbeda isolat berbeda kemampuan survivalnya di daerah perakaran hal ini berhubungan dengan kemampuan cendawan tersebut untuk kolonisasi di daerah perakaran. Sehingga uji mikroba di lapang adalah kritikal sebelum mikroba diaplikasikan.  Perkembangan yang lebih maju dari penggunaan mikroba bagi augmentasi adalah manipulasi peningkatan aktivitas. Ukuran mikroba yang kecil dan genom yang sederhana dari mikroba menyebabkan manipulasi mikroba telah menjadi focus dalam bidang rekayasa genetic pada tingkat molecular.  Inserting genes telah banyak dilakukan dalam virus, bakteri, dan cendawan dan bertujuan untuk meningkatkan virulensi, meningkatkan resistansi pada pestisida, dan mencegah perluasan inang.

Produksi massal. Mikroba yang telah banyak digunakan dalam program pengendalian hayati adalah bt yang hanya membutuhkan media sederhana dan biaya yang murah untuk produksi massal dalam skala besar menggunakan fermentor.  Spesies lain mungkin membutuhkan optimalisasi nutrisi (sumber karbon, rasio karbon nitrogen) dan kondisi fermentor (temperatur, pH, dan aerasi).  Akan tetapi yang terpenting dalam produksi massal mikroba adalah produksi propagul infektif selama produksi massal.  Beberapa mikroba bersifat obligat sehingga hanya bisa diproduksi massal pada inang yang hidup.  Hal ini jelas akan banyak mempengaruhi dalam produksi massal. Diantara produk bioinsektisida dari golongan cendawan dan bakteri, umumnya didominasi spesies/strain yang mudah ditumbuhkan pada kultur yang bukan inang hidup. Kontrol kualitas aspek dalam pengembangan produksi massal mikroba sebagai agens pengendali hayati hama adalah (1) penjaminan bahwa kultur tidak terkontaminasi, khususnya mikroba patogen manusia, (2) penjaminan bahwa mikroba tetap virulen pada spesies target, dan (3) penjaminan bahwa jumlah propagul/unit active/infektif tercantum jelas didalam produknya.

Penyimpanan dan transportasi.  Beberapa mikroba dapt disimpan untuk bulanan atau tahunan pada temperatur ruang.  Contoh adalah Bacillus thuringiensis dapat survive bertahun-tahun.  Jika mikroba itu tidak dapat disimpan dalam jangka waktu lama, maka penyimpanan, transportasi mirip insektisida sintetik.  Keuntungan pada mikroba adalah memberi kesempatan produksi secara terus-menerus dan mudah disimpan.  Beberapa cendawan sangat rawan kehilangan virulensi ketika disimpan dalam beberap bulan.  Verticillium lecanii  yang dijual secara komersil untuk mengendalikan aphid pada pertanaman di greenhouse, dapat bertahan bila disimpan dalam kondisi dingin.

Pelepasan.  Salah satu keuntungan penggunaan mikroba dalam augmentasi, bahwa mikroba tersebut dapat diaplikasikan dengan menggunakan alat semprot standar seperti yang digunakan untuk aplikasi pestisida.  Mikroba dapat diaplikasikan secara langsung pada luasan areal yang besar seperti hutan dan dapat diaplikasikan dari udara.  Akantetapi kontras dengan penggunaan parasitoid dan predator, aplikasi mikroba membutuhkan presisi yang tinggi yaitu propagul infektif harus sampai pada spesies target, hal ini disebabkan mikroba tidak mempunyai kemampuan aktif untuk menyebar dan mencari seperti parasitoid dan predator yang mobil mencari dan menemukan inangnya. Mikroba juga harus tercampur dengan bahan lain (carrier) untuk memfasilitasi aplikasinya, hal ini sering disebut formulasi.  Sebagian besar mikroba sangat sensitive terhadap desikasi dan sinar langsung matahari (UV) dan tidak mampu melindungi dirinya sendiri setelah aplikasi, sehingga diperlukan bahan lain yang digunakan untuk memperpanjang tingkat lngevitas dan survival dari mikroba di alam.  Material dalam formulasi itu bisa meliputi material yang mempermudah propagul infektif untuk melekat pada daun/inang dan mencegah ketercucian secara langsung oleh hujan.  Material seperti optical brighteners yang ditambahkan pada virus entomopatogen mampu meningkatkan aktivitas dan virulensi dari virus tersebut. Spora cendawan yang membutuhkan bebas air untuk perkecambahannya, akan diformulasikan dalam minyak sayuran.  Kemudian formulasi ini diaplikasikan dengan menggunakan alat ultra low volume (ULV).  Mikroba juga dapat diformulasikan untuk meningkatkan daya simpannya, mudah digunakan atau tingkat kompatibilitas dengan alat semprot seperti pestisida.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: