STATUS Helopeltis sp SEBAGAI HAMA PADA BEBERAPA TANAMAN PERKEBUNAN DAN PENGENDALIANNYA

Published Maret 30, 2012 by armeinachevana

BAB I

PENDAHULUAN

Jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) merupakan tanaman yang berasal dari pegunungan di benua Amerika yang beriklim tropis (Brazilia). Di Indonesia tanaman jambu mete telah terbukti dapat tumbuh dengan baik di lahan-lahan marginal beriklim kering seperti daerah-daerah yang menjadi sentra produksi jambu mete saat ini yaitu Sulawesi Tenggara (25,1%), NTT (23,6%), Sulawesi Selatan (17,4%), NTB (10,2%), Jawa Tengah (6,0%), Jawa Timur (5,37%) Sulawesi Tengah (4,54%), Bali (2,67%), Maluku Utara (1,5%), Yogyakarta (0,9%), Papua (0,85%), dan Gorontalo (0,34%). Daerah pengembangan jambu mete seluruhnya mencakup 26 provinsi dengan areal pertanaman seluas 588.429 ha dengan produksi 140.307 ton pada tahun 2006.

Produktivitas jambu mete di Indonesia masih rendah yaitu sekitar 250-500 Kg gelondong/ha/tahun bila dibandingkan dengan India dan Thailand yang produktivitasnya telah mencapai 600 dan 1000 Kg gelondong/ha/tahun.

Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di Indonesia. Helopeltis spp. merupakan hama utama dan paling cepat menimbulkan kerugian pada tanaman jambu mete. Ada 3 jenis Helopeltis spp. yang menyerang tanaman jambu mete di Indonesia yaitu: H. antonii Signoret, H. theiovora Waterhouse dan H. bradyi Waterhouse. Dari ketiga jenis tersebut H. antonii adalah yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Serangga dewasa Helopeltis antonii (Hemiptera Miridae) berupa kepik berwarna coklat kemerahan, kepala berwarna hitam, bagian punggung (toraks) berwarna merah dan sebagai ciri khasnya terdapat tonjolan seperti jarum pentul. Panjang kepik dewasa berkisar 5,9-8 mm, antena terdiri dari 4 ruas dengan panjang hampir dua kali lipat panjang tubuhnya.

 

 

 

BAB II

ISI

 

A. Kerusakan yang Ditimbulkan

Nympha dan imago menyerang dengan cara mengisap cairan tanaman yang masih muda seperti daun, pucuk muda, tunas, bunga, biji,/gelondong, dan buah. Air liur serangga ini sangat beracun sehingga pada bagian tanaman yang terkena tusukan melepuh dan berwarna coklat tua. Serangan pada titik tumbuh dapat mengakibatkan mati pucuk sehingga pertumbuhan tanaman terhambat.

Di pembibitan, nimfa instar pertama dan kedua pertama-tama menyerang daun muda kemudian pucuk. Gejala serangan Ditandai dengan adanya bercak-bercak transparan berbentuk elips di sepanjang tepi tulang daun dan bentuk segi empat pada helai daun.

Bercak tersebut pada hari berikutnya berubah warna menjadi cokelat. Serangan yang berat dapat menyebabkan kematian tanaman. Nimfa instar ketiga menyerang tunas kemudian ke bagian batang.Gejala serangan ditandai dengan adanya bercak coklat tua berbentuk elips. Serangan nimfa pada bibit yang berumur 2-3 bulan menyebabkan pertumbuhan bibit terhambat (Wiratno et al 1996).

Nimfa instar keempat dan kelima mengisap cairan pucuk lebih banyak dibanding serangga dewasa. nimfa instar kelima dan serangga betina lebih berpotensi menimbulkan kerusakan dibanding nimfa instar pertama,kedua,ketiga,keempat,dan serangga jantan (Atmadja 1999). Menurut Karmawati et al. (1999), nimfa H antonii terutama menyarang bagian tengah dan bawah tajuk tanaman.

Serangga dewasa mula-mula menyerang daun muda, kemudian berlanjut ke bagian batang yang muda. Gejala serangan ditandai dengan timbulnya bercak cokelat tua berukuran 8-10 mm. Serangan berta pada pucuk mati sehingga mempengaruhi pembungaan. bila serangan terjadi pada saat pertumbuhan tanaman memasuki fase generatif, pucuk tidak dapat menghasilkan tangkai bunga.

Serangan pada buah mengakibatkan bercak-bercak coklat dan biji (mete) yang terserang dapat gugur. Kerusakan akibat serangan Helopeltis spp. Dapat mencapai 60%. Kerugian akan semakin besar akibat serangan patogen lain separti infeksi oleh cendawan Pestalotiopsis sp. yang hanya dapat menyerang tanaman dalam kondisi lemah atau luka.

Hama ini mengisap cairan daun, tunas muda, bunga dan pentil buah dengan cara memasukkan alat penghisap/stiletnya ke dalam jaringan bagian tanaman tersebut. Akibatnya pertumbuhan daun, tunas muda, bunga, dan pentil buah terhambat, sehingga dapat menurunkan produksi buah.

Pada bagian tanaman yang terserang tampak adanya bekas tusukan berupa noda kering berwarna coklat kemerahan hingga hitam dan bagian itu sangat rapuh. Kerusakan pada pentil buah ditunjukkan dengan adanya bekas tusukan yang mengeluarkan gumpalan getah berwarna kuning. Pada tunas-tunas muda kerusakan berupa luka yang panjang berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan kematian pucuk. Pada bunga gejala serangan berupa warna hitam pada bunga itu.

Serangan hama tersebut juga dapat menyebabkan stagnasi pertumbuhan tanaman dan kematian titik tumbuh (pucuk). Kematian pucuk itu merangsang pertumbuhan cabang sekunder, sehingga pertumbuhan tajuk menggerombol. Jika menyerang bibit, maka bibit menjadi kerdil, bahkan mati.

B. Bioekologi

Serangga ini hidup dengan baik pada ketinggian 200—1.400 mdpl. Serangga dewasa (imago) berwarna coklat kemerahan sampai coklat kehitaman dan pada mesoskutelumnya terdapat jarum. Bagian punggung berwarna kelabu sampai hijau kelabu, sedangkan tungkainya berwarna coklat kelabu. Panjang tubuhnya 6,5—7,5 mm.

Serangga Helopeltis spp. menyukai lingkungan yang teduh dengan kelembaban sedang dan sangat peka terhadap sinar matahari langsung sehingga kondisi pertanaman yang rimbun dan kotor sangat disukai. Populasi hama akan meningkat selama musim kering dan mencapai puncaknya pada akhir musim hujan. Selain jambu mete, Helopeltis  spp. juga menyerang tanaman teh, kakao, lamtoro, alpokat, mangga, ubi jalar, kina, jambu

Serangga betina meletakkan telur dengan bantuan ovipositor pada jaringan tanaman manggis yang masih lunak sambil mengisap cairan sel daun tanaman. H. antonii mampu bertelur 1—18 butir sehari. Selama masa bertelur dapat menghasilkan 80 butir, tergantung pada ketinggian tempat. Telur memiliki panjang 1,5 mm.

Telur akan menetaskan dalam waktu 5—7 hari dan keluarlah nimfa yang berbulu dan berkembang menjadi dewasa dan memiliki sayap setelah 4 kali ganti kulit. Nimfa yang baru keluar belum memiliki jarum dan jarum itu baru tampak setelah ganti kulit pertama.

C. Tanaman inang lain

Kakao, teh, kayu manis, jambu bol, dan benih/bibit dari beberapa tanaman.

D. Pengamatan

Dilakukan pada daun, tunas, bunga, dan buah muda (pada fase flush sampai buah muda) dengan mengamati populasi telur, serangga muda, dan serangga dewasa.

E. Biologi

            Helopeltis spp. termasuk ordo Hemiptera, famili Miridae. Serangga ini bertubuh kecil ramping dengan tanda yang spesifik yaitu tonjolan berbentuk jarum pada mesoskuletum. Helopeltis merupakan genus yang mempunyai banyak spesies. Di Indonesia, spesies yang banyak merusak tanaman jambu mete, kakao dan teh adalah H. antonii dan H. theivora Waterh (Nanopriatno 1978; Soenaryo dan Situmorang 1978; Djamin 1980).

Bentuk serangga dewasa Helopeltis antonii berupa bewarna coklat kehitaman, panjang tumbuh 4,5 – 6 mm, pada bagian toraks terdapat tonjolan seperti jarum pentul. Antena 4 ruas, panjangnya dua kali panjang tubuhnya. Lama hidup imago sekitar 24 hari.

Stadium telur

Menurut Kilin dan Atmaja (2000), telur mulai diletakkan serangga betina pada pucuk jambu mete pada hari kelima sampai ketujuh dari saat serangga menjadi dewasa. Telur diletakkan secara berkelompok 2-3 butir dalam jaringan tanaman yang lunak seperti bakal buah, rantung muda, bagian sisi bawah tulang daun, tangkai buah dan buah yang masih muda. Setiap ekor serangga betina meletakkan telur rata-rata 18 butir.

Menurut Wardoyo (1983), jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor serangga betina selama hidupnya pada tanaman kakao rata-rata mencapai 121,90 butir (67-229 butir) dan banyaknya telur yang menetas rata-rata 71,70 butir (23-134 butir), atau fertilisasi telur 58,80 % (34,20-85,50 %). Keberadaan telur pada jaringan bagian tanaman ditandai dengan munculnya benang-benang seperti lilin agak bengkok dan tidak sama panjang di permukaan jaringan tanaman. Dalam waktu 6-8 hari,telur-telur tersebut mulai menetas menjadi nimfa (Bagian Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman 1971 : Sudarmadji 1979 ; Sudarsono 19800

Seekor betina mampu meletakkan telur 93 butir selama hidupnya. Telur berbentuk lonjong bewarna keputihan diselipkan pada jaringan tanaman yang lunak secara berkelompok antara 2 dan 3 butir. Telur dicirikan dengan adanya 2 helai benang warna putih, panjangnya tidak sama terlihat di atas permukaan bagian tanaman tempat telur diletakkan. Stadia telur rata-rata 7 hari. Nimfa tidak bersayap dan tubuhnya bewarna coklat muda. Stadia nimfa sekitar dua minggudan mengalami 4 kali ganti kulit sebelum menjadi dewasa.

Bentuk serangga dewasanya nyamuk, kepala berwarna hitam, bagian dada dan punggung berwarna hitam, merah atau jingga, perut berwarna putih berselang hitam. Pada bagian punggung terdapat jarum atau tanduk. Mikung atau nimfa berwarna kuning pucat. Telur berwarna putih dan diletakan pada bagian internodus (Wibowo et al., 1997). Pracaya (1991) menambahkan hama Helopeltis sp. memiliki panjang tubuh 7-9 mm dan lebar 2 mm, mempunyai kaki yang panjang dan antena yang sangat panjang.

Serangga ini mempunyai tipe metamorfosis tidak lengkap. Telur serangga ini mempunya panjang 1,5-2,0 mm berbentuk seperti tabung tetapi sedikit bengkokdengan tutup yang bulat dan berambut pada bagian ujungnya. Telur dimasukan satu-satu dalam jaringan tanaman yang lunak sehingga hanya tutup dan rambut saja yang terlihat dari luar.

Stadium Nimfa

Pada pucuk jambu mete, waktu yang diperluka mulai saat menetas sampai menjadi dewasa adalah 11-15 hari. Selama itu, nimfa mengalami lima ganti kulit. Pergantian Kulit pertama kedua, ketiga, keempat dan kelima berturut-turut adalah 1;3;2,5;2,5;dan 3 hari. (Kilin dan Atmaja 2000)

Pada tanaman kakao, periode nimfa berkisar antara 11-13 hari. Lama pergantian kulit pertana kedua, ketiga, keempat dan kelima berturut-turut adalah 4,2,2,2, dan 4 hari. Periode stadia nimfa berkisar antara 10-14 hari (Wiratno et al. 1996)

Instar pertama berwarna cokelat bening yang kemudian berubah menjadi cokelat. Untuk nimfa instar kedua, tubuh berwarna cokelat muda, antena cokelat tua, tonjolan pada toraks terlihat jelas dan bakal sayap mulai terlihat. Nimfa instar keempat dan kelima ciri morfologinya sama.

Nimfa yang telah selesai perkembangannya memiliki panjang tubuh 7 mm dengan antena yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya. Hellopeltis betina bisa hidup sampai 6-10 minggu danbertelur sebanyak 30-60 butir, pada beberapa jenis dapat bertelur sampi 500 butir.

Stadium Dewasa

Pada jambu mete, nimfa instar pertama mencapai serangga dewaqa memerlukan waktu 24 hari. Rata-rata lama hidupserangga betina dewasa adalah 18,90 hari (7-16 hari), dan serangga dewasa jantan 19,80 hari (6-37 hari) (Kilin dan Atmaja 2000). Menurut Wiratno et al. (1996), rata-rata lamanya hidup serangga jantan dewasa dan betina pada tanaman jambu mete berkisar 24 hari.

Hasil penelitian Wardoyo (1983) menunjukkan bahwa pada buah kakao, dari setiap 30 ekor nimfa yang menetas dapat diperoleh 24-29 ekor (rata-rata 26,70 ekor) serangga dewasa, dengan perbandingan 1,30 betina dan 1 jantan. lama hidup serangga betina berkisar antara 10-42 hari sedangkan serangga jantan 8-52 hari.

Serangga muda terdiri dari 5 instar diselesaikan dalam waktu 9-19 hari bergantung pada temperatur, kelembaban dan kualitas makanan. Jumlah telur yang dapat dihasilkan oleh serangga dewasa (imago) berkisar 10- 82 butir. Telur berwarna putih, diselipkan pada pucuk daun atau pada jaringan muda yang masih lunak, 2 helai benang berwarna putih yang menonjol keluar menandakan adanya telur di dalam jaringan tersebut

Bentuk serangga H. theivora hampir sama dengan H. antonii hanya warnanya hijau atau kuning kehitaman. Perbedaan yang paling menyolok adalah tonjolan pada toraksnya yang membongkok ke belakang sedangkan pada H. antonii lurus ke atas H. bradyi mempunyai tubuh lebih panjang melebihi 8 mm, tapi warnanya lebih gelap dari H. antonii (Kalshoven, 1981).

 

F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN Helopeltis spp

Banyak faktor yang mem-pengaruhi fluktuasi populasi hama ini di lapangan, begitu pula dengan kelimpahannya. Faktor-faktor inilah yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan populasi di pertanaman. Berbagai faktor telah diteliti sejak jambu mete merupakan tanaman prioritas untuk dikembangkan di sentra-sentra produksi. Faktor ini dapat dibedakan menjadi faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yang telah diteliti adalah a) penggunaan musuh alami yaitu jamur patogenik dan predator, b) interaksi antara Helopeltis dan hama lain, c) pola tanam, dan d) inang alternatif.

Sedang faktor abiotik adalah a) kelembaban, b) radiasi matahari dan c) curah hujan. Pengaruh musuh alami terutama predator telah dipelajari di Jawa Tengah. Serangga predator seperti Coccinella sp., semut hitam dan semut rangrang dapat menekan serangan Helopeltis spp. (Karmawati et al., 1999). Di Australia, semut rangrang Oecophylla smaragdina F. dapat melindungi tanaman jambu mete dari hama utama (Peng et al., 1999).

Hasil penelitan tahun 2004 di NTB menunjukkan adanya interaksi antara Helopeltis dan S. indecora dapat menghadirkan semut lebih banyak dan semut dapat mengendalikan populasi Helopeltis spp. (Karmawati et al., 2004a) Musuh alami lain yang dapat menekan serangan Helopeltis adalah jamur Beauveria bassiana pada pertanaman jambu mete dengan sistem tumpang sari di Wonogiri (Karmawati et al., 2001). Jamur ini tidak hanya menyerang Helopeltis pada jambu mete, tapi juga H. theobromae pada kakao.

Peranan tanaman sela di antara jambu mete dan adanya serasah disebutkan pula oleh Soebandrijo (2003) dapat meningkatkan populasi parasit. Adanya tanaman sela menyebabkan tanaman jambu mete lebih terpelihara dan bersih dari gulma-gulma berdaun lebar terutama sintrong dan Ageratum sp. yang merupakan inang alternatif bagi Helopeltis. Sedangkan serasah, selain dapat menjaga kelembaban tanah pada musim kemarau, juga menyiapkan makanan bagi parasit-parasit di bawah tumpukan serasah tersebut. Pengaruh faktor abiotik paling berperan dalam fluktuasi populasi.Serangga dari genus Helopeltis ini sangat peka terhadap sinar matahari langsung. Mereka menyukai lingkung-an yang teduh dan kelembaban yang sedang. Pertanaman yang rimbun dan kotor sangat disukai hama ini.

Dengan diperlukannya kelembaban, munculnya Helopeltis dipengaruhi oleh curah hujan. Di sentra pengembangan, curah hujan dimulai awal Januari danberakhir pada bulan Mei atau Juni, artinya Helopeltis mulai pada bulan Januari dan mencapai puncak padabulan April atau Mei, kemudian menurun pada bulan berikutnya. Fenomena ini ditunjang oleh hasil penelitian Karmawati et al. (1999) di Wonogiri dan Karmawati et al. (2004b) di Lombok Barat bahwa kemunculan hama ini ditentukan oleh curah hujan, suhu dan kelembaban mikro. Oleh sebab itu kebun yang kotor dan kurang terawat mendukung perkembangan populasi serangga ini karena akan tumbuh gulma yang selain menyebab-kan lingkungan mikro menjadi teduh dan lembab, gulma merupakan lingkungan alternative pada saat makanan pada jambu mete berkurang.

G. CARA PENGENDALIAN

Penelitian yang telah dilaksanakan selama 5 tahun secara berkelanjutan sejak tahun1999 memberikan petunjuk-petunjuk dan informasi sehingga mempunyai peluang untuk digunakan dalam komponen pengendalian secara terpadu. Masing-masing komponen yang dapat digunakan diuraikan sebagai berikut :

1. Apabila pertanaman jambu mete belum ada di lapangan, pilihlah bahan tanaman yang kira-kira relatif tahan dan toleran terhadap Helopeltis. Hasil penelitian dirumah kaca di Bogor ada 2 aksesi jambu mete yang tahan dan toleran terhadap hama tersebut, yaitu Mojokerto (XIII-8) dan Bala-krisnan (B-02) (Amir et al., 2004).

2. Helopeltis mulai muncul satu bulan sesudah hujan pertama seiring dengan munculnya pucuk/tunas. Monitoring pada saat itu harus sudah mulai dilakukan. Bila dilihat dari siklus hidupnya, setelah 21 hari sejak telur diletakkan, imago udah dapat bertelur lagi, maka monitoring dilakukan setidaknya 5 – 7 hari sekali.

3. Pada musim hujan, tumpangsari dengan tanamanpangan dapat dilakukan dan kebun harus bersih dari gulma agar imago tidak mempunyai tempat untuk ber-lindung pada inang alternatif. Tajuk-tajuk yang tidak perlu dan saling bersinggungan dianjurkan untuk dipangkas agar cahaya matahari dapat masuk ke sela-sela tajuk.

4. Pada musim panas, tumpuklah serasah-serasah daun pada beberapa titik untuk menjaga kelembaban tanah dan tempat berlindung serta makanan bagi serangga-serangga parasit.

5. Apabila populasi semut rangrang dan semut hitam berkurang, diupayakan untuk menarik dan mendatangkan semut misalnya dengan menyemprot sedikit air tapai sedikit atau air madu.

6. Apabila serangan Helopeltis mulai muncul pada saat monitoring, pengendalian dengan Beauveria bassiana dapat dilakukan pada sore atau pagi sekali. Pilihlah B. bassiana yang sudah diperbaharui. Juklak pembuatan dan perbanyakan jamur ini dapat dikonsultasikan dengan Dinas-Dinas Perkebunan Propinsi di sentra pengembangan jambu mete.

7. Apabila tanaman mimba banyak terdapat di lapangan, biji atau daun mimba dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Konsentrasi yang digunakan adalah 200 – 300 g biji mimba per 10 l air atau 1 kg daun mimba per 10 l air.

Untuk mengetahui adanya serangan Helopeltis spp. perlu dilakukan monitoring. Sistem peringatan dini tentang adanya serangan Helopeltis spp. ditandai dengan melihat adanya bekas tusukan baru yang berwarna coklat mengkilap dan bentuk daun yang mengeriting, merupakan langkah penting dalam usaha mencegah hama ini berkembang di pertanaman. Pengendalian hama Helopeltis spp. dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara pengendalian sebagai berikut:

1. Sanitasi kebun dan pemangkasan tajuk-tajuk tanaman yang tidak diperlukan dan saling bersinggungan sehingga pertanaman tidak telalu rimbun dan cahaya matahari dapat masuk ke sela-sela tajuk.

2. Penjarangan tanaman.

3. Pemanfaatan musuh alami :

Predator, seperti: semut rangrang, kumbang Coccinella sp, belalang sembah, laba-laba, dan cecopet. Di India serangga dari famili Reduviidae (Endochus inomatus) dilaporkan dapat memangsa Helopeltis antonii sebanyak 20 ekor perhari (Devasahayam and Nair, 1986). Jamur Beauveria bassiana yang diaplikasikan dengan cara penyemprotan pada pagi atau sore hari.Parasitoid telur dari genus Telenomus dan Tawon Mymaridae, Erythmelus sp. sedangkan parasitoid nympha adalah tawon bracon, Leiophron sp.  (CPC, 2003).

4. Penggunaan pestisida nabati dari biji atau daun nimba, dengan konsentrasi 200-300 g biji per 10 l air atau 1 kg daun nimba per 10 l air, dengan cara penyemprotan.

5. Pengendalian gulma (inang alternatif seperti Ageratum sp.).

a. Pengendalian secara kultur teknis

1. Pemupukan yang tepat dan teratur

Pada jambu mete, pemberian pupuk secara tepat dan teratur akan menjadikan tanaman tumbuh dengan baik serta memiliki daya tahan tinggi terhadap gangguan hama. Pemberian unsur hara yang tidak seimbang akan mempengaruhi kondisi tanaman. Pemupukan N yang berlebihan mengakibatkan jaringan tanaman menjadi lunak dan mengandung asam amino yang tinggi sehingga disenangi H antonii.

Tanaman yang memperoleh unsur P dalam jumlah cukup lebih tahan terhadap serangan hama penyakit karena unsur p akan mempertinggi daya regenerasi tanaman dari kerusakan. Unsur K berperan penting pada proses asimilasi dan bertindaksebagai katalisator. Fungsi lain unsur K yaitu memperkuat jaringan tanaman serta mempertinggi unsur hara K dalam tanah. Kondisi tanaman yang lemah karena lahan yang tidak subur atau kekurangan air akan mempercepat perkembangan populasi hama H antonii. Pemupukan dengan amonium sulfat akan meningkatkan serangan hama ini, demikian juga pada tanaman yang kekurangan fosfat dan potasium (Bagian Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman 1971; Wikardi et al.1996)

2. Pemangkasan

Pengendalian H antonii dengan pemangkasan bisa dilakukan pada jambu mete. Namun informasi ini belum banyak diperkenalkan kepada petani (Wikardi et al.1996)

Pada tanaman kakao, pemangkasan dilakukan dengan cara membuang tunas air yang tumbuh di sekitar prapatan dan cabang-cabang utama (Sudarsono 1980). Tunas air akan mengganggu pertumbuhan tanaman karena dapat menjadi pesaing tanaman dalam pengambilan zat hara dan air. Karena H antonii meletakkan telur pada jaringan tanaman yang lunak termasuk tunas air, maka pembuangan tunas ini secara teratur setiap 2 minggu, akan mengurangi populasinya karena telur yang terdapat pada tunas air akan terbuang.

3. Sanitasi tanaman inang

H. antonii juga dapt hidup pada tanaman inang lain seperti Kapok (Ceiba petandra), rambutan (Nephelium lappasicium), dadap (Erythrina vaginata) dan berbagai famili Leguminoceae (Direktorat Jendral Perkebunan 1976; Nanopriatno 1978). Untuk menghindari serangan H antonii maka tanaman inang tersebut harus dimusnahkan dari areal perkebunan.

4. Pohon pelindung

Pada budi daya jambu mete, pohon pelindung diperlukan waktu tanaman masih bibit pada awal penanaman di lapang. Namun informasi tentang hal ini masih terbatas (Wikardi et al 1996)

Pada tanaman kakao, pohon pelindug sangat diperlukan baik pohon pelindung sementara maupun tetap. Pelindung sementara diperlukan waktu bibit ditanam di lapang. Pohon pelindung tetap diperlukan agar pertumbuhan dan perkembangan tanaman cukup ideal. Pohin pelindung yang terlalu lebat akan meningkatkan udara di sekitar tanaman sehingga merangsang perkembangan hama dan penyakit. Untuk mengurangi serangan H antonii maka pohon pelindung sebaiknya tidak terlalu lebat sehingga sirkulasi udara berlangsung lancar terutama pada tempat kering yang sering diserang. Serangga H antonii tidak tahan terhadap angin dan sinar matahari secara langsung.

5. Pemilihan klon unggul

Dalam rangka menunjang program pengembangan perkebunan perlu dilakukan pemilihan klon-klon unggul yang cocok untuk daerah tertentu. Beberapa keuntungan penggunaan tanaman teh klonal dibanding tanaman asal biji adalah lebih seragam, cepat menghasilkan dan produksi pucuk lebih tinggi. Namun penggunaan tanaman teh klonal memiliki kelemahan yaitu mempunyai ketahanan yang berbeda beda terhadap serangan hama dan penyakit, serta daya adaptasinya terhadap lingkungan cukup beragam.

–          Membuat pesemaian di tempat yang tidak terlindung atau mengurangi naungan;

–          Pemangkasan untuk menjaga agar lingkungan tajuk tidak terlalu rimbun;

–          Tidak menanam manggis di dekat inang Helopeltis sp.;

–          Menghindari penanaman mangis di daerah rawa (hama ini senang bersembunyi di daerah tersebut).

b.Cara mekanis

–          Pengamatan yang cermat, bila ditemukan hama tersebut (nimfa dan imago) segera ditangkap dan dibunuh;

–          Pemangkasan bagian tanaman yang terserang berat.

c. Cara biologi

Konservasi musuh alami seperti belalang sembah (Mantis sp.), laba-laba, dan kepik famili Reduviidae. Pada jambu mete pengendalian serangga ini secara hayati masih belum banyak dilakukan. Menurut Wikardi et al. (1996) pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami khususnya B bassiana telah dilaksanakan di propinsi DIY, tetapi belum memberikan hasil yang memuaskan. Selain menggunakan B bassiana, pengendalian hayati juga dapat dilakukan dengan semut hitam dan semut rangrang, namun hasilnya belum diketahui.

Penelitian Karmawati et al. (1999) di Wonogiri telah menemukan beberapa jenis predator H. antonii, yaitu Coccinella sp., semut hitam, dan semut rangrang. Namun, populasi semut hitam dan semut rangrang lebih dominan. Keefektifan predator dalam mengendalikan H. antonii membutuhkan waktu sekitar dua tahun. Peran predator dalam mengendalikan H. antonii telah pula diteliti di beberapa negara. Di Malaysia, jenis semut yang dominan adalah Dolichoderus thoracicus (Khoo dan Ho 1992), di Australia jenis semut rangrang yang dominan adalah Occophyla smaragdina. Di India, selain jenis semut, musuh alami yang banyak ditemukan di lapang adalah parasitoid Telenomus sp. dan Chaetostricha (Sundararaju 1992).

Pengendalian H. antonii pada tanaman kakao dengan menggunakan semut hitam cukup prospektif (Hutauruk 1998), terutama jenis D. thoracicus pada tanaman kakao secara hayati (Bakri et al. 1986).

Menurut Nanopriatno (1978), semut hitam jenis D. bituberculatus mempunyai kemampuan untukmengusir H. antonii dari tanaman kakao. Predator tersebut pernah diteliti pada tahun 1904 di perkebunan Silowuk Sawangan dan pada tahun 1938 di Kediri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan H. antonii pada buah kakao yang sering dikunjungi semut.Namun, jenis semut ini tidak dapat bersaing dengan jenis lainnya pada habitat baru. Oleh karena itu, sebelum diintroduksikan lokasi baru perlu dibebaskan dari jenis semut lain.

Pengendalian H. antonii pada tanaman teh secara hayati dapat dilakukakan dengan melindungi dan merangsang kehidupan musuh alami serta introduksi, pengembangbiakkan dan pelepasan parasitoid serta predator yang spesifik. Berdasarkan hasil inventarisasi, predator H. antonii adalah dari kelompok Mantidae, Reduviidae, Arachnidae dan semut.

Selain predator tersebut, terdapat juga cacing parasit pada nimfa H. antonii yaitu Agumarata paradacamadata. Parasitoid Eupharus helopeltinus merupakan musuh alami yang cukup potensial. Patogen yang menyerang H. antonii yaitu jamur Metarhizium yang dapat berperan sebagai biota pengendali secara hayati di kebun teh (Dharmadi 1990). Burung kapinis ( Collocalia esculanta). selain merupakan predator kutu loncat, juga sebagai predator H.antonii (Sukasman 1996).

d. Pengendalian Secara Kimiawi

Pada tanaman jambu mete, pengendalian secara kimiawi harus dilakukan dengan hati-hati, karena pengendalian yang tidak tepat justru akan H. antonii. Tanaman yang disemprot  insektisida akan tumbuh lebih cepat dengan tunas-tunas baru yang lebih sukulen dan disukai hama tersebut. Selain itu, pengendalian kimiawi yang tidak tepat akan membunuh predator dan parasitoid hama tersebut. Pengendalian kimiawi dilakukan bila diperlukan, dengan menggunakan beberapa jenis insektisida secara bergantian (Ohler 1976).

Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri (1996), penggunaan insektisida hendaknya menjadi alternatif terakhir dan dilakukan bila ambang kendali telah dilampaui. Insektisida yang dianjurkan untuk mengendalikan H. antonii adalah dari golongan karbamat, terutama untuk pembibitan dan kebun-kebun produksi yag belum pernah diaplikasi insektisida lain, serta dari golongan monokrotofos dan siodosulfan.

Pada pembibitan dan pertanaman muda, aplikasi insektisida diarahkan pada daun muda dan pucuk tanaman. Pada tanaman tanaman produktif dilakukan pada bunga dan buah muda.

Menurut Betrem dalam Nara dan Benyamin (1972), pendebutan serbuk belerang yang mengandung 0,72% retenon dengan interval pendekatan 10 hari sangat baik menekan populasi H. antonii. Namun demikian, penggunaan serbuk retenon berbahaya bagi manusia karena mengakibatkan iritasi pada selaput lendir hidung.

Jenis insektisida yang dapat digunakan untuk mengendalikan H. antonii adalah insektisida yang mengandung bahan aktif siflutrin, tiodikarb, asefat, sipermetrin, dekametrin, klorpirifos, fention, karbamat, metomil, dan formation  (Sulistyowati dan Sarjono. 1988)

–          Penggunaan pestisida botani/bahan tanaman (akar tuba, daun pucung, tembakau, lengkuas);

–          Penyemprotan dengan insektisida yang efektif, terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian dan penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Pengendalian secara hayati berupaya untuk mempertahankan dan meningkatkan sumberdaya alam serta memanfaatkan proses-proses alami.

b. Penelitian tentang pengendalian penyakit tumbuhan secara hayati tidak bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian dalam jangka pendek, namun untuk mencapai tingkat produksi stabil dan memadai dalam jangka panjang

c. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap OPT dengan penyakit yang ditimbulkannya terutama kalau dikaitan dengan tanaman inang, pola tanam, system pertanian, daya dukung lahan dan system pengendalian pada waktu tertentu perlu diantisipasi dengan cermat dan baik.

d. Dalam menerapkan pengendalian hayati di lapangan, keperdulian unsure-unsur terkait (peneliti/pakar, penyuluh/petugas proteksi tanaman, petani, tokoh masyarakat, pengambil keputusan perlu terpadu dengan aktif.

e. Proses pengendalian hayati harus berkelanjutan dan kesempatan sebagai komponen yang kuat dalam PHT akan terwujud dengan menggiatkan koordinasi untuk melakukan eksplorasi, pengadaan agensia, penggunaan di lapangan dan evaluasi terus menerus.

f. Peluang dan prospek pengendalian hayati penyakit tanaman cukup besar untuk dikembangkan di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: